0
News
    Home Berita Featured Spesial Ziaroh Kubur

    Waktu Terbaik Ziarah Kubur, Benarkah Malam Jumat? Ini Penjelasan Ulama! - Tebuireng Online

    6 min read

     

    Waktu Terbaik Ziarah Kubur, Benarkah Malam Jumat? Ini Penjelasan Ulama!

    Waktu Ziarah Kubur

    Banyak di antara kita punya kebiasaan rutin ziarah kubur setiap malam Jumat atau pagi harinya. Ada yang membawa doa, ada pula yang membacakan surat-surat Al-Qur’an untuk dihadiahkan kepada ahli kubur. Namun, muncul pertanyaan: apakah memang ada waktu khusus yang syariat anjurkan untuk ziarah kubur?

    Baca juga: Menabur Bunga dan Menanam Tumbuhan di atas Kuburan, Bolehkah?

    Dalil Tentang Waktu Terbaik Ziarah Kubur

    Dalam Hāsyiyah al-Ṣāwī, pengarangnya menampilkan sabda Rasulullah ﷺ:

    مَنْ زَارَ وَالِدَيْهِ كُلَّ جُمُعَةٍ غُفِرَ لَهُ وَكُتِبَ بَارًّا

    “Barang siapa yang menziarahi kedua orang tuanya setiap hari Jumat, maka Allah mengampuninya dan (ia akan Allah) catat sebagai anak yang berbakti.”

    Beberapa ulama bahkan menambahkan bahwa para mayit mengetahui kedatangan para penziarahnya pada hari Jumat, sehari sebelumnya (Kamis sore), dan sehari setelahnya (Sabtu pagi).

    وَعَنْ بَعْضِهِمْ: أَنَّ الْمَوْتَى يَعْلَمُونَ بِزُوَّارِهِمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمًا قَبْلَهُ وَيَوْمًا بَعْدَهُ، وَعَنْ بَعْضِهِمْ: عَشِيَّةَ الْخَمِيسِ وَيَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ السَّبْتِ إلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ،

    “Dan dari sebagian ulama: sesungguhnya orang-orang yang sudah meninggal mengetahui para penziarah mereka pada hari Jumat, sehari sebelumnya, dan sehari sesudahnya. Dan dari sebagian ulama (lain): pada sore hari Kamis, hari Jumat, dan hari Sabtu sampai terbit matahari.”

    Imam al-Qurṭubī menegaskan:

    وَلِذَلِكَ يُسْتَحَبُّ زِيَارَةُ الْقُبُورِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَهَا،

    “Karena itu sunah ziarah kubur pada malam Jumat dan siangnya.”

    Namun, ada pula keterangan bahwa hari Sabtu makruh untuk ziarah, meski Nabi ﷺ pernah menziarahi syuhadā’ Uhud pada hari Sabtu karena alasan jarak dan kesibukan hari Jumat.

    Baca juga: Kenapa Masih Ragu Ziarah Kubur? Ini Dalil dan Penjelasannya!

    Rahasia Ikatan Ruh dengan Kuburnya

    Dalam Ḥāsyiyah al-Bujairamī, pengarangnya menjelaskan bahwa ruh seorang mayit tidak pernah terpisah dari kuburnya.

    رُوحُ الْمَيِّتِ لَهَا ارْتِبَاطٌ بِقَبْرِهِ وَلَا تُفَارِقُهُ أَبَدًا لَكِنَّهَا أَشَدُّ ارْتِبَاطًا بِهِ مِنْ عَصْرِ الْخَمِيسِ إلَى شَمْسِ السَّبْتِ وَلِذَلِكَ اعْتَادَ النَّاسُ الزِّيَارَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَفِي عَصْرِ الْخَمِيسِ

    “Ruh orang yang telah meninggal itu memiliki keterkaitan dengan kuburnya dan tidak pernah berpisah darinya selamanya. Akan tetapi, keterkaitannya dengan kubur lebih kuat mulai dari sore hari Kamis hingga matahari terbit pada hari Sabtu. Oleh karena itu, manusia telah terbiasa melakukan ziarah pada hari Jumat dan sore hari Kamis.”

    Anjuran Membaca Surat al-Ikhlas 11 kali

    Sunah bagi kita pula dalam sebagian riwayat membaca surat al-Ikhlas:

    وَفِي الْقُرْطُبِيِّ أَنَّهُ عليه الصلاة والسلام قَالَ: مَنْ مَرَّ عَلَى الْمَقَابِرِ وَقَرَأَ ﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴾ الإخلاص: ١ إحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ وَهَبَ أَجْرَهُ لِلْأَمْوَاتِ أُعْطِيَ مِنْ الْأَجْرِ بِعَدَدِ الْأَمْوَاتِ

    “Barangsiapa melewati kuburan lalu membaca surat Qul Huwa Allāhu Aḥad (Al-Ikhlāṣ) sebanyak 11 kali, kemudian menghadiahkan pahalanya untuk ahli kubur, maka ia mendapat pahala sebanyak jumlah orang yang wafat.”

    Baca juga: Ziarah Kubur: Tradisi Umum di Nusantara

    Kapan Waktu Terbaik Ziarah?

    Para ulama sepakat, ziarah kubur oleh syariat anjurkan kapan saja sebagai bentuk doa, ibrah, dan mengingat akhirat. Hanya saja, malam Jumat, hari Jumat, dan Kamis sore adalah waktu-waktu yang lebih utama, karena saat itu ruh lebih erat dengan jasadnya dan doa lebih besar harapannya untuk diterima.

    Penutup

    Ziarah kubur bukan sekadar rutinitas, tapi kesempatan untuk:

    • Mendoakan orang tua dan kerabat,
    • Mengingat mati,
    • Memperoleh ampunan dari Allah SWT.

    Jadi, bila ada waktu luang di Kamis sore atau Jumat, sempatkanlah untuk ziarah kubur. Bukan hanya bermanfaat untuk orang tua yang telah mendahului kita, tapi juga sebagai pelajaran hidup bagi kita yang masih berjalan di dunia.

    Semoga Allah menjadikan kita anak yang berbakti dan hamba yang ingat akan akhirat.

    Referensi:

    Ahmad bin Muhammad ash-Shawi, Hasyiyat ash-Shawi.

    Sulaiman bin Muhammad al-Bujairami, Hasyiyat al-Bujairami ‘ala Syarh al-Manhaj

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo


    Komentar
    Additional JS