0
News
    Home Featured Hilal Ilmu Pengetahuan Spesial

    Kenapa Hilal Kadang Sulit Terlihat? Ini Penjelasan Ilmiahnya - Pikiran Rakyat

    5 min read

     

    Kenapa Hilal Kadang Sulit Terlihat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

    Ilustrasi - Kenapa Hilal Kadang Sulit Terlihat? Ini Penjelasan Ilmiahnya /ilustrasi/Malanghits.com/
    Daftar Isi

    CHANELSULSEL.COM - Menjelang penentuan awal Ramadan atau Idul Fitri, istilah hilal kembali menjadi perhatian publik. Hilal merupakan bulan sabit pertama yang menandai dimulainya bulan baru dalam kalender Hijriah.

    Namun dalam praktiknya, hilal tidak selalu mudah terlihat meskipun secara perhitungan astronomi bulan sudah berada di atas ufuk.

    Fenomena inilah yang sering membuat proses pengamatan hilal menjadi penting sebelum pemerintah menetapkan awal bulan Hijriah melalui sidang isbat yang digelar oleh
    Kementerian Agama Republik Indonesia.

    Lalu, apa sebenarnya yang membuat hilal kadang sulit terlihat?

    1. Ketinggian Bulan Masih Sangat Rendah

    Salah satu faktor utama adalah ketinggian bulan di atas ufuk saat matahari terbenam. Jika posisi bulan terlalu rendah, cahaya hilal akan sangat tipis sehingga sulit dibedakan dari cahaya senja.

    Di Indonesia, visibilitas hilal biasanya mengacu pada kriteria yang disepakati negara-negara anggota MABIMS.

    Dalam kriteria tersebut, hilal dinilai berpotensi terlihat jika memiliki ketinggian tertentu dan jarak sudut yang cukup dari matahari.

    Jika ketinggiannya terlalu rendah, hilal hampir mustahil terlihat dengan mata telanjang.

    2. Cahaya Senja Masih Terlalu Terang

    Hilal muncul tidak lama setelah matahari terbenam. Pada waktu tersebut langit masih dipenuhi cahaya senja (twilight) yang cukup terang.

    Karena hilal memiliki cahaya yang sangat tipis dan redup, keberadaannya sering kali kalah terang dibandingkan cahaya langit di sekitarnya.

    Akibatnya, meskipun hilal sebenarnya sudah ada, pengamat di bumi belum tentu dapat melihatnya.

    3. Jarak Bulan dan Matahari Terlalu Dekat

    Faktor penting lainnya adalah jarak sudut antara bulan dan matahari yang dalam astronomi disebut elongasi.

    Jika jaraknya terlalu dekat, bagian bulan yang terkena cahaya matahari masih sangat kecil sehingga bentuk sabitnya hampir tidak terlihat.

    Karena itu para ahli astronomi biasanya menghitung terlebih dahulu kemungkinan visibilitas hilal sebelum melakukan pengamatan lapangan.

    4. Kondisi Cuaca dan Atmosfer

    Cuaca juga menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan rukyat. Awan tebal, kabut, polusi udara, atau kelembapan tinggi dapat menghalangi pandangan pengamat terhadap hilal.

    Di Indonesia yang beriklim tropis, kondisi cuaca sering berubah dengan cepat, sehingga pengamatan hilal di satu wilayah bisa saja gagal meskipun di wilayah lain berhasil.

    5. Pengaruh Lokasi Pengamatan

    Lokasi pengamatan juga berperan penting. Hilal lebih mudah diamati dari tempat yang memiliki cakrawala barat yang terbuka, seperti pantai atau dataran tinggi.

    Karena itu pengamatan hilal biasanya dilakukan di puluhan titik strategis di berbagai daerah Indonesia untuk meningkatkan peluang terlihatnya hilal.

    Perpaduan Ilmu Astronomi dan Syariat

    Penentuan awal bulan Hijriah pada dasarnya merupakan perpaduan antara perhitungan astronomi (hisab) dan pengamatan langsung (rukyat).

    Kedua metode ini saling melengkapi untuk memastikan penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri dilakukan secara ilmiah sekaligus sesuai dengan ketentuan syariat.

    Karena berbagai faktor tersebut, tidak mengherankan jika hilal terkadang sulit terlihat meskipun secara perhitungan astronomi bulan sudah berada di atas ufuk.

    Itulah sebabnya proses pengamatan hilal dan sidang isbat setiap tahun selalu menjadi momen penting yang dinantikan umat Islam dalam menentukan dimulainya Ramadan maupun Hari Raya Idul Fitri..***

    Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor manusia untuk kenyamanan pembaca.


    Komentar
    Additional JS