0
News
    Home Featured Idul Fitri Khutbah Idul Fitri Spesial

    Khutbah Idul Fitri 1447 H: Empat Langkah Strategis untuk Membentengi Generasi dari Fitnah Akhir Zaman - NU Online

    9 min read

     

    Khutbah Idul Fitri 1447 H: Empat Langkah Strategis untuk Membentengi Generasi dari Fitnah Akhir Zaman

    Khutbah I


    اللهُ أَكْبَر (۹) : اللهُ أَكْبَر كَبِيرًا وَ الحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا؛ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ أَعَزَّ جُنْدَهُ وَ هَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ لَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الظَّالِمُوْنَ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اللهُ أَكْبَر، اللهَ أَكْبَر وَ اللَّهِ الْحَمْدُ.  
    ​الْحَمْدُ لِلَّهِ ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَسْرَةَ حِصْنًا حَصِينًا؛ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الَّذِي أَمَرَنَا بِتَرْبِيَةِ الْأَوْلَادِ تَرْبِيَةً تُنِيرُ دُرُوبًا يَقِيْنَا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَمَرَ بِحِفْظِهِمْ مِنْ فِتَنِ الزَّمَانِ فَيَكُونُونَ لِلْحَقِّ مُبِينًا؛ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ وَسَلَّمْ عَلَيْهِ تَسْلِيمًا.  
    ​أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ ، أَوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: "يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ" (سورة التحريم: ٦).


    Ma‘asyirol mukminin, jama'ah shalat ‘'idul fiṭri rahimakumullah 
    Pagi ini kita bertakbir mengagungkan kebesaran Allah. Namun, diwaktu yang sama kita dikhawatirkan dengan dampak turbulensi geopolitik global dan hantaman era digital. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan Bonus Demografi bahwa 68% penduduk kita ada di usia produktif pada 2020-2050. Apakah akan menganarkan pada Indonesia emas atau malah Indonesia Cemas?. 


    Hadirin, keluarga kita ibarat sebuah bahtera kecil di tengah samudra yang sedang diamuk badai. Resiko ombak media sosial akan dengan mudah menenggelamkan jika tanpa perencanaan dan persiapan. Mari kita perhatikan contoh nyata di sekitar kita:


    Fisiknya hadir di ruang keluarga, tapi jiwanya melayang entah ke mana
    Sibuk mengejar pujian semu di dunia maya, hingga hilang adab dan tata krama.
    Siang malam asyik menatap layar kaca, panggilan shalat pun dilewatkan begitu saja.
    Bangga maksiat di depan kamera, tak sadar masa depan hancur binasa.
      


    Dampak geopolitik global mengancam sendi kehidupan kita, diantara berbagai ancaman adalah harga kebutuhan pokok dilambungkan, lapangan kerja disempitkan, dan pemutusan hubungan kerja (PHK) jelas akan dirasakan. Dampak krisis ekonomi ini bagaikan badai senyap yang siap memorak-porandakan atap rumah kita jika tanpa persiapan. Maka syariat menegaskan dan mewajibkan: 


    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١٨


    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.


    اللهُ أَكْبَر, اللهُ أَكْبَر, اللهُ أَكْبَرو لله الحمد


    Ma‘asyirol mukminin, jama'ah shalat ‘'idul fiṭri rahimakumullah
    Perencanaan hari esok bukan sekadar urusan diselamatkannya uang tabungan. Aset masa depan paling berharga yang wajib diselamatkan di tengah himpitan ekonomi adalah generasi penerus kita. Jumlah besar generasi penerus bangsa ini dipastikan akan diubah menjadi musibah, jika di tengah kelelahan orang tua mencari nafkah, pendidikan agama anak di rumah justru ditelantarkan. Oleh karena itu, hadirin!, di mimbar kemenangan ini Khoib sampaikan langkahlangkah strategis bagi kita dalam membentengi keluarga, dengan mengintegrasikan dalil dan tafsir langsung sebagai pedoman:


    Langkah pertama, merencanakan finansial dan waspada berbasis takwa mitigasi ekonomi keluarga harus dimulai dengan perencanaan matang. Merujuk pada Surah Al-Hasyr ayat 18 pada kalimat وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ jangan sampai besar pasak daripada tiang: gaya hidup mewah dipertontonkan, tapi tagihan utang disembunyikan. Hentikan gaya hidup konsumtif dan jeratan utang instan seperti Pinjol, paylater, dan riba semata-mata unuk kebaikan dunia dan akherat. Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Juz 8, Hal. 75 menafsirkan: 1


    حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا. وَانْظُرُوْا مَاذَا ادَّخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَتِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ 


    Artinya: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan perhatikanlah amal saleh apa yang telah kalian simpan untuk hari kembali kalian”.


    Langkah Kedua: Mengembalikan Fungsi Rumah sebagai Madrasah Keimanan Peringatan agung dalam Surah At-Tahrim ayat 6 قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا, harus ditegakkan. Keteladanan ibadah wajib dihidupkan sebelum lisan orang tua memerintahkan. Mustahil bayangan jatuh memanjang lurus, jika tongkat aslinya bengkok tak terurus. Jangan biarkan gawai dan internet mengambil alih peran pengasuhan, melainkan arahkan keturunan pada iman dan ketaqwaan. Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir Jilid 14, Hal. 581 menafsirkan: 2:


    Artinya: “Yakni jagalah diri kalian dengan meninggalkan maksiat, dan jagalah keluarga kalian dengan cara yang sama seperti seseorang menjaga dirinya sendiri”.


    اللهُ أَكْبَر, اللهُ أَكْبَر, اللهُ أَكْبَرو لله الحمد


    Ma‘asyirol mukminin, jama'ah shalat ‘'idul fiṭri rahimakumullah
    Langkah Ketiga: Sensor Digital dan Proteksi Pergaulan Pintu rumah dikunci rapat dari incaran pencuri harta, tapi pencuri akidah dibiarkan bebas masuk lewat layar kaca. Maka, waktu bermain HP wajib dibatasi secara tegas. dan hati anak dilindungi dari budaya amoral yang diagungkan oleh media sosial. Hujjatul Islam Imam AlGhazali dalam Ihya ‘Ulumuddin (Juz 3, Hal. 72) menjelaskan:


    أَي إِحْفَظُوا أَنفُسَكُمْ بِتَرْكِ الْمَعَاصِي وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ، وَاحْفَظُوا أَهْلِيكُمْ مِمَّا يَحْفَظ بِهِ الشَّخصُ نَفْسَهُ


    Artinya: “Anak adalah amanah di sisi orang tuanya. Hatinya yang suci adalah mutiara berharga yang polos, kosong dari setiap ukiran, dan ia siap menerima ukiran apa pun yang digoreskan padanya”


    Langkah Keempat: Menetapkan Pendidikan Agama sebagai Skala Prioritas Utama Menelamakan keurunan melanjutkan peradaban generasi yang tangguh hukumnya wajib. Maka segala sarana yang mengantarkannya berhukum wajib. Alokasi harta untuk menyekolahkan anak ke madrasah, pesantren, atau memfasilitasi guru mengaji di rumah harus diprioritaskan melebihi ambisi duniawi. Sebagaimana kaidah fundamental Ushul Fiqih karya Imam As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa An-Naza'ir (Hal. 144):


    الصَّبِيُّ أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالدَيْهِ وَقَلْبُهُ الطَّاهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ سَاذَجَةٌ خَالِيةٌ عَنْ كُلِّ نَقْشِ وَصُورَةِ وَهُوَ قَابِلٌ لِكُلِّ مَا نُقِشَ عَلَيْهِ


    Artinya: “Hukum sebuah sarana senantiasa ditundukkan pada hukum tujuan akhirnya”.


    اللهُ أَكْبَر, اللهُ أَكْبَر, اللهُ أَكْبَرو لله الحمد


    Sebagai penutup khubah singkat ini, ditekankan sebuah fatwa sosial bagi kita semua, khususnya masyarakat tatar Pasundan. Nilai luhur budaya silih asah, silih asih, silih asuh harus dihidupkan kembali sebagai sistem pertahanan berlapis di tengah krisis. Generasi muda di sekitar kita harus dicetak menjadi pribadi yang cageur tangguh secara mental, bageur mulia akhlaknya, beneur lurus akidahnya, pinter cerdas literasinya, dan singer gigih kreatif adaptif meskipun di masa yang sulit. Dengan 4 langkah straegis; 1) Merencanakan finansial dan waspada berbasis takwa; 2) Mengembalikan fungsi rumah sebagai madrasah keimanan; 3) Sensor digital dan proteksi pergaulan; dan 4) Menetapkan pendidikan agama sebagai skala prioritas utama.


    بَارَكَ اللَّهُ لِي وَ لَكُمْ وَ نفَعَنِي وَ إِياكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيتِ وَ ذكْرِ الحَكِيمِ، وَ تَقَبَّلَ اللَّه مِنَّا وَ مِنْكُمْ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ


    Khutbah II


    اللهُ أَكْبَر (۷)؛ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَ الحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا؛ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللهُ أكْبَرُ وَاللهِ الحَمْدُ.  
    ​الحَمْدُ للهِ حَمْدًا طَيِّبًا كَثِيرًا مُبَارَكًا فِيهِ ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ سَلَّمٌ عَلَيْهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أمّا بَعْدُ. عِبَادَ اللهِ ، أُصِيْكُمْ وَ إِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.  
    ​قَالَ اللهُ تَعَالَى: "إِنَّ اللَّهَ وَمَلَبِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا"


    اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ سَلَّمٌ وَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِينَ، كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجهكَ الكَرِيمِ وَ عَظِيمٍ سُلْطَانِكَ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَ إِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.  
    ​رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا ذُنُوبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدِينَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا ، اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوبَنَا وَ ذُنُوبَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِينَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحِمَ الرَّاحِمِينَ.  
    ​اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّيْنِ وَ عَافِيَةً فِي الجَسَدِ وَ زِيَادَةً فِي العِلْمِ وَ بَرَكَةً فِي الرِّزْقِ، وَ تَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَ رَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَ مَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ اللَّهُمَّ هَوَنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَاتِ المَوْتِ وَ النَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَ الْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ.  
    ​اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَ الْجَنَّةَ وَ نَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَ النَّارِ ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَ صِيَامَنَا وَ قِيَامَنَا وَ تَخَشُعَنَا وَ تَضَرُّعَنَا وَ تَعَبُدَنَا وَ تَمِمْ تَقْصِيرَنَا.  
    ​رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَ سَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.  

    ​عِبَادَ اللَّهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَنِ وَإِيتَايِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (النحل: ٩٠) وَ لَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَ لكُمْ.
    وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ


    Ustadz Ahmad Setiawan, S.Kom.I, M.Sos, Wakil Sekretaris LD-PWNU Jawa Barat


    Komentar
    Additional JS