Kisah Ketika Rasulullah Mencarikan Jodoh untuk Sahabat yang Diabaikan Dunia - jatimtimes
Kisah Ketika Rasulullah Mencarikan Jodoh untuk Sahabat yang Diabaikan Dunia
Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana
JATIMTIMES - Di tengah gemerlap kisah para sahabat Nabi, ada satu nama yang sering terlupa: Julaibib. Seorang lelaki tanpa keturunan mulia, rupa menawan, atau harta berlimpah, bahkan tak banyak yang tahu asal-usulnya.
Tapi justru dialah yang mendapat kehormatan langka. Rasulullah SAW sendiri turun tangan mencarikan jodoh untuknya, membuktikan bahwa di mata Allah, kemuliaan sejati terletak pada ketakwaan, bukan penampilan atau status sosial.
Baca Juga : Hari Pers Nasional 2025 ke-79: Wali Kota Kediri Raih Penghargaan Tokoh Muda Pemberdaya Masyarakat
Julaibib adalah potret nyata orang yang "tak terlihat" di masyarakat. Posturnya kecil, kulitnya gelap, pakaiannya selalu lusuh, dan hidupnya sepi dari perhatian. Tak ada yang menganggapnya penting, kecuali satu orang: Rasulullah SAW.
Nabi Muhammad SAW memperlakukan Julaibib dengan kelembutan yang luar biasa. Beliau tak sekadar menyapa, tapi juga memastikan Julaibib merasakan kebahagiaan dunia-akhirat, termasuk dalam hal pernikahan. Suatu hari, dengan penuh kasih, Rasulullah SAW mendatanginya dan bertanya:
"Julaibib, tidakkah engkau ingin menikah?"
Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong. Julaibib, yang seumur hidupnya dianggap tak layak dicintai, hanya bisa menjawab dengan hati bergetar:
"Siapa yang mau menikahkan putrinya dengan orang sepertiku, ya Rasulullah?"
Tapi Rasulullah SAW tidak membiarkan keraguan itu mengubur harapan. Beliau terus mendorong Julaibib, bahkan langsung bertindak sebagai "wali perjodohan" untuknya.
Rasulullah SAW tidak berhenti pada kata-kata. Beliau menggandeng tangan Julaibib dan berjalan menuju rumah seorang tokoh Anshar terkemuka. Begitu pintu terbuka, Nabi menyampaikan maksudnya dengan lugas: "Aku datang untuk meminang putri kalian."
Keluarga itu pun berseri-seri, mengira Nabi yang akan menjadi menantu mereka. Tapi kemudian Rasulullah SAW mengarahkan pandangannya pada Julaibib: "Bukan untukku. Untuk dia, Julaibib."
Baca Juga : Nikah SAE dan Romansa di Balik Mobil Dinas AG 1: Kisah Satria dan Niken dari Kota Blitar
Reaksinya pun meledak. Sang ibu menjerit penuh penolakan: "Julaibib? Yang miskin, tak punya nasab, dan buruk rupa itu? Tidak mungkin!".
Tapi di balik tirai, putri mereka justru bersuara lantang: "Jika Rasulullah yang meminangkan, aku rela!"
Pernikahan Julaibib bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan pelajaran keras bagi dunia : bahwa ridha Allah dan Rasul-Nya mengalahkan segala prasangka manusia. Sayang, kebahagiaan itu tak berlangsung lama.
Julaibib segera dipanggil untuk berjihad dan gugur sebagai syahid. Bahkan di kematiannya pun, Rasulullah SAW-lah yang paling bersedih, sementara para sahabat lain sempat tak menyadari kepergiannya.
Julaibib mati sebagai pahlawan tanpa nama di mata manusia, tapi abadi sebagai kekasih Allah yang disambut bidadari. Dan semua itu berawal dari satu langkah luar biasa Rasulullah SAW: ketika beliau dengan rendah hati menjabat tangan seorang sahabat yang diabaikan dunia, lalu membawanya menuju mahligai cinta yang tak pernah ia bayangkan.
Wallahu a'lam bishshawab.