Mengenal Sosok Imam Bukhari, Ulama yang Lahir dan Meninggal di Bulan Syawal - Liputan6
Mengenal Sosok Imam Bukhari, Ulama yang Lahir dan Meninggal di Bulan Syawal
Kisah hidup Imam Bukhari, ulama besar yang lahir dan wafat di bulan Syawal, serta kontribusinya yang monumental dalam ilmu hadis, khususnya kitab Sahih Bukhari.
Liputan6.com, Jakarta Bulan Syawal menjadi saksi atas perjalanan hidup seorang ulama besar yang namanya tetap abadi dalam sejarah Islam, yaitu Imam Bukhari. Ulama yang lahir pada bulan Syawal tahun 194 H di Uzbekistan ini telah menunjukkan kecerdasannya dalam ilmu hadis sejak usia remaja.
Dengan ketekunan dan kecermatannya, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyusun kitab hadis paling otoritatif, Shahih Bukhari, yang disusun selama 16 tahun dan hingga kini menjadi rujukan utama dalam keilmuan Islam. Dedikasi serta kejeliannya dalam menyeleksi hadis menjadikannya dijuluki sebagai Amirul Mukminin fil Hadits atau pemimpin kaum mukmin dalam ilmu hadis.
Karyanya bukan hanya sekadar kumpulan hadis, tetapi juga sebuah standar emas dalam keabsahan riwayat yang dijadikan pedoman oleh umat Islam. Menariknya, perjalanan hidup Imam Bukhari pun berakhir di bulan Syawal, tepatnya pada tahun 256 H, menutup lembaran kehidupan seorang alim besar yang warisannya terus hidup hingga kini. Berikut kisah lengkapnya, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (27/3/2025).
Masa Kecil Sang Ahli Hadits
Imam Bukhari, seorang ulama besar yang kelak menjadi rujukan utama dalam ilmu hadis, lahir pada 13 Syawal 194 H di Kota Bukhara, Uzbekistan. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah bin al-Ja’fii al-Bukhari. Ia tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai keilmuan, meski sejak kecil telah diuji dengan kehilangan sang ayah. Sejak saat itu, ia dibesarkan oleh ibunya yang penuh kasih sayang dan memiliki peran besar dalam membentuk kecerdasannya.
Sejak kecil, Imam Bukhari mengalami kebutaan. Namun, berkat doa ibunya yang tak henti-hentinya memohon kepada Allah, penglihatannya kembali pulih. Dalam sebuah riwayat, ibunya bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim, yang menyampaikan kabar bahwa Allah telah mengembalikan penglihatan putranya. Mukjizat ini menjadi titik awal perjalanan Imam Bukhari menuju kecemerlangan dalam keilmuan Islam.
Memiliki kecerdasan luar biasa dan ketertarikan mendalam terhadap ilmu hadis, Imam Bukhari telah menghafal ribuan hadis sejak usia dini. Pada usia enam tahun, ia mulai mempelajari kitab-kitab besar pada masanya. Menjelang usia enam belas tahun, ia sudah menghafal karya-karya Imam Ibnul Mubarak dan Waqi’ serta mendalami fiqih madzhab Hanafi.
Perjalanan Imam Bukhari Menjadi Seorang Ahli Hadis
Perjalanan Imam Bukhari dalam menekuni ilmu hadis dimulai sejak usia muda. Ia sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa dan semangat belajar yang tinggi. Sejak kecil, ia telah menghafal banyak hadis dan memahami ilmu fiqih dari para ulama di negerinya. Pada usia 16 tahun, ia mulai melakukan perjalanan ke berbagai kota untuk menuntut ilmu dan mengumpulkan hadis langsung dari sumbernya.
Imam Bukhari belajar kepada banyak ulama di berbagai negeri, termasuk Balkh, Khurasan, Ray, Baghdad, Bashrah, Makkah, Madinah, Mesir, dan Syam. Beberapa gurunya yang terkenal antara lain Makki bin Ibrahim, Yahya bin Yahya, al-Humaidi, dan Abul Yaman. Perjalanannya ini menunjukkan dedikasi luar biasa dalam memastikan keabsahan hadis yang ia kumpulkan.
Demi mendapatkan keterangan yang lengkap tentang suatu hadis dan para periwayatnya, Imam Bukhari tidak hanya mengandalkan catatan atau riwayat dari orang lain, tetapi juga bertemu langsung dengan para perawi. Ia mencatat hadis dari lebih dari 1.000 ulama dan mengumpulkan sekitar 600.000 hadis selama pengembaraannya.
Melahirkan Ulama dan Karya Besar
Selain sebagai pencari hadis, Imam Bukhari juga dikenal sebagai seorang pengajar yang menghasilkan banyak murid hebat, di antaranya Abu Isa at-Tirmidzi, Abu Hatim, Abu Bakar bin Abi Dawud, dan Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah. Murid-muridnya ini kemudian menjadi ulama besar yang turut menyebarkan ilmu hadis ke berbagai penjuru dunia Islam.
Puncak perjalanan keilmuan Imam Bukhari adalah penyusunan kitab Shahih Bukhari, yang merupakan koleksi hadis-hadis paling sahih. Kitab ini ia susun dengan sangat teliti selama 16 tahun, dengan menyaring hadis dari ratusan ribu yang telah ia kumpulkan. Kitab ini diakui oleh para ulama sebagai kitab hadis tersahih setelah Al-Qur'an, seperti yang ditegaskan oleh Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah.
Selain Shahih Bukhari, ia juga menulis kitab lain seperti Tarikh Kabir, yang berisi biografi para perawi hadis. Karya-karyanya menjadi rujukan utama dalam ilmu hadis hingga saat ini.
Kehebatan Imam Bukhari diakui oleh banyak ulama besar. Ulama Makkah menyebutnya sebagai pemimpin dan faqih umat Islam di masanya. Para ulama dari berbagai kota yang ia kunjungi selalu menyanjungnya, bahkan mereka menganggapnya lebih unggul daripada diri mereka sendiri. Imam Ibnu Taimiyah bahkan menyatakan bahwa tidak ada kitab hadis yang lebih sahih di dunia ini selain Shahih Bukhari dan Shahih Muslim setelah Al-Qur'an.
Ujian Hidup Sang Imam
Di balik keagungan ilmunya dan karya monumentalnya, Imam Bukhari menghadapi ujian berat di akhir hidupnya. Ia mengalami tekanan dari penguasa kota-kota Muslim, terutama di Naisabur, Bukhara, dan Samarkhan.
Salah satu penyebabnya adalah keteguhan sikapnya dalam menjaga kemurnian ilmu. Ketika penguasa meminta Imam Bukhari untuk mengajarkan hadis kepada anak-anak mereka di istana, ia menolak dengan tegas. Baginya, ilmu harus dicari oleh pencari ilmu, bukan diantarkan ke pintu penguasa. Selain itu, ketenarannya yang luar biasa menimbulkan rasa iri di kalangan sebagian orang, yang akhirnya berujung pada pengusiran dirinya dari berbagai kota.
Pada usia 62 tahun, Imam Bukhari diusir dari Naisabur. Ia kembali ke tanah kelahirannya di Bukhara, di mana masyarakat menyambutnya dengan penuh antusiasme. Namun, hal ini justru semakin membangkitkan kemarahan penguasa Bukhara. Tidak lama setelah kedatangannya, ia kembali diusir tanpa diberi kesempatan untuk membawa buku-bukunya.
Tanpa tujuan yang jelas, Imam Bukhari memutuskan untuk menuju Samarkhan. Namun, di tengah perjalanan, ia singgah di desa Kartank untuk bertemu kerabatnya. Malangnya, penguasa Samarkhan pun tidak menginginkannya di sana. Bahkan di malam Idul Fitri, ia kembali diusir.
Wafat dalam Pengasingan
Dalam kondisi terusir dan kelelahan, Imam Bukhari meninggalkan desa tersebut dengan bantuan seorang muridnya, Ibrahim bin Ma’qil. Namun, di perjalanan, tubuhnya yang sudah renta tidak mampu bertahan lagi. Di tepi jalan, Imam Bukhari mengembuskan napas terakhirnya pada malam Idul Fitri, 1 Syawal 256 H.
Meskipun para penguasa yang menzaliminya telah lama dilupakan sejarah, nama Imam Bukhari tetap harum dan dikenang hingga kini. Karyanya terus menjadi rujukan utama dalam ilmu hadis, dan jasanya dalam menjaga kemurnian ajaran Islam tetap abadi. Semoga Allah merahmati Imam Bukhari dan menempatkannya di surga bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang saleh.