Berdebar-debar, Penantian Maisaroh Dampingi Ibu 88 Tahun ke Tanah Suci -
Berdebar-debar, Penantian Maisaroh Dampingi Ibu 88 Tahun ke Tanah Suci
JAKARTA, KOMPAS.com – Penantian panjang untuk menunaikan ibadah haji akhirnya terwujud bagi Maisaroh (55), warga Cempaka Putih, yang berangkat ke Tanah Suci bersama ibunya, Mursinah (88).
Setelah menunggu hingga satu dekade dan menabung dari hasil berdagang pakaian, keduanya kini bersiap berangkat dari Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.
Maisaroh mengaku berdebar-debar karena bisa berangkat bersama sang ibu yang telah lanjut usia. Ia mendaftar haji lebih dulu pada 2016, sedangkan ibunya baru mendaftar pada 2020.
Negosiasi Tak Pasti, Iran-AS Adu Pengaruh di Selat Hormuz
Baca juga: 393 Jemaah Haji Kloter Pertama Embarkasi Jakarta Mulai Masuk Asrama Haji Pondok Gede
"Iya ibu sudah nunggu-nunggu. Kalau ada orang pulang haji atau umroh, ibu selalu nanya, 'Kapan saya dipanggil? Kok orang-orang udah dipanggil?' katanya. 'Jangan-jangan saya panggil Ilahi duluan,' kata ibu begitu," ucap Maisaroh saat ditemui di Asrama Haji Pondok Gede, Selasa (21/4/2026).
Maisaroh mengatakan, ia mendaftarkan ibunya saat usaha pakaian yang dijalaninya mengalami peningkatan pendapatan. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk mewujudkan keinginan ibunya menunaikan ibadah haji.
"Alhamdulillah waktu saya dagang, ternyata dapat dikasih rezeki banyak, saya langsung tanya sama ibu, 'Mau nggak daftar haji?' Lalu dijawab mau katanya. Ya, sudah langsung didaftarin, dia senang," katanya.
Ia mengaku sempat khawatir karena usia ibunya yang sudah lanjut. Namun, ia bersyukur kondisi kesehatan ibunya memungkinkan mereka berangkat bersama.
"Terus cuma waktu pendampingan saya bingung, karena ibu saya kan sudah lanjut ya, ternyata alhamdulillah dikasih sehat, bisa bareng, mudah-mudahan diberi kemampuan sampai sampai perjalanan hajinya," jelasnya.
Kisah serupa juga dialami Sariyem (60), warga Cibubur, yang menunggu antrean haji selama 13 tahun. Ia akan berangkat ke Tanah Suci bersama suaminya, Lasito (70).
Baca juga: Jemaah Haji Wajib Tahu, Barang Ini Bisa Tersaring Otomatis di Asrama Pondok Gede
Sariyem yang merupakan pensiunan guru sekolah dasar di kawasan Pondok Rangon mengatakan, ia menabung dari gajinya hingga mampu membayar biaya awal pendaftaran haji.
"Iya saya nabung, prosesnya pertama Rp 25 juta. Setelah dapat panggilan baru saya ngelunasin. Jadi terus enggak nyicil-nyicil lagi. Soalnya kami nyimpen (nabung)," tutur Sariyem.
Ia menyebutkan, ibadah haji ini merupakan yang pertama baginya. Sariyem mengaku bersyukur karena penantian panjang akhirnya terwujud.
"Sampai depan kabah, ingin doa biar semua keluarga sehat, panjang umur, lancar rezekinya, berkah barokah," ungkapnya.
Sebelumnya, sebanyak 393 jemaah haji kloter pertama embarkasi Jakarta mulai memasuki Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, sejak Selasa (21/4/2026) pagi.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, jemaah yang tiba langsung menuju gedung serbaguna untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
Selain itu, mereka juga melakukan registrasi aktivasi Nusuk, yakni identitas digital dan fisik resmi dari pemerintah Arab Saudi. Setelah proses tersebut, jemaah menerima paspor serta uang saku sebesar 750 riyal.
Baca juga: Kloter Pertama Jemaah Haji Masuk Asrama Pondok Gede Besok Pagi
Petugas juga mengumpulkan koper jemaah untuk diangkut ke bus masing-masing. Sejumlah petugas membantu jemaah lanjut usia (lansia) saat menjalani pemeriksaan kesehatan dengan memberikan prioritas pelayanan.
Kepala UPT Asrama Haji Pondok Gede Muhammad Ali Zakiyudin mengatakan, jemaah akan diarahkan ke kamar untuk beristirahat setelah menyelesaikan proses registrasi. Setelah itu, jemaah akan mengikuti kegiatan pembekalan sebelum keberangkatan.
"Sementara masuk asrama dulu. Nanti setelah jam istirahat ada waktu salat jemaah bersama, salat wajib. Nanti di dalam salat wajib itu ada, pengukuhan atau, penguatan kembali terkait manasik. Termasuk juga sosialisasi kesehatan, termasuk sosialisasi, menghadapi musim di sana," ucap Ali.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang