0
News
    Update Haji
    Home Berita Featured Haji Jombang Kerupuk Kisah Inspirasi Kisah Inspiratif Spesial

    Kisah Penjual Kerupuk di Jombang Siap Naik Haji, Rutin Menabung Receh Sejak 1983 - Kompas

    4 min read

     

    Kisah Penjual Kerupuk di Jombang Siap Naik Haji, Rutin Menabung Receh Sejak 1983


    JOMBANG, KOMPAS.com – Buah dari ketekunan menyisihkan penghasilan selama puluhan tahun, seorang penjual kerupuk keliling di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, akhirnya siap menunaikan ibadah haji pada tahun 2026.

    Sosok inspiratif tersebut adalah Sutaji (66), warga Dusun Budug, Desa Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Ia tidak akan berangkat sendiri, melainkan bersama sang istri, Siti Hana (62).

    Bapak tiga anak ini bukanlah pedagang besar. Sehari-hari, Sutaji menjajakan kerupuk menggunakan sepeda ontel tua. Profesi ini telah ia geluti sejak tahun 1970, saat usianya masih belia.

    Baca juga: Haji Uma Ungkap Ada Kasus Hogi Minaya di Aceh Tengah: Penangkap Pencuri Jadi Tersangka

    Aktivitas Sutaji dimulai selepas subuh. Ia mengayuh sepeda menyusuri desa-desa di Kecamatan Peterongan hingga menjelang tengah hari.

    Full Fasilitas, Intip Bus Pengangkut Jemaah Haji Indonesia dari Bandara Madinah

    "Saya jualan sejak tahun 1970. Waktu itu masih tinggal di Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto," ungkap Sutaji kepada Kompas.com, Senin (2/2/2026).

    Baca juga: Menhaj Ungkap 2 Alasan Pejabat Tak Bisa Jadi Petugas Haji

    Buah kedisiplinan

    Ketekunan bekerja dan disiplin menyisihkan uang akhirnya membuahkan hasil. Pasangan suami istri ini berhasil melunasi biaya haji dan dijadwalkan terbang ke Tanah Suci pada tahun 2026.

    Ikhtiar suci ini bermula pada tahun 1983, tepat saat Sutaji mempersunting Siti Hana. Kala itu, terbersit niat kuat dalam hati Sutaji untuk berhaji bersama pasangan hidupnya.

    "Sejak awal menikah sudah ada niat. Kalau Allah memberi rezeki, ingin berangkat haji," tutur Sutaji.

    Gayung bersambut, sang istri mendukung penuh niat tersebut. Keduanya sepakat menerapkan manajemen keuangan yang sederhana, namun konsisten.

    Pada era 1980-an, penghasilan rata-rata Sutaji hanya Rp 1.000 per hari. Dari jumlah tersebut, mereka rutin menyisihkan Rp 200 untuk ditabung.

    Berkat kedisiplinan itu, Siti Hana berhasil mendaftar haji lebih dulu pada tahun 2012. Tujuh tahun berselang, tepatnya pada 2019, giliran Sutaji yang mendaftarkan diri.

    Hingga kini, kebiasaan menabung tersebut tak pernah putus. Sutaji bersama sang istri, terus menabung dari menyisihkan sebagian penghasilan.

    Memasuki tahun 2025, penghasilan Sutaji dari berjualan kerupuk rata-rata mencapai Rp 100.000 per hari. 

    Dari jumlah itu, ia dan istri menyisihkan Rp 50.000 atau separuh pendapatannya untuk tabungan.

    "Dari awal sudah diniati hidup sederhana. Kebutuhan dipenuhi, sisanya ditabung," tegasnya.

    Proses panjang menabung sejak tahun 1983 itu kini terbayar lunas. Sutaji dan istri tinggal menunggu waktu keberangkatan sesuai ketentuan pemerintah.

    "Alhamdulillah. Dari niat yang baik, Allah memberikan kemudahan jalan bagi saya," pungkas Sutaji.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Keterbatasan Fisik Tak Menyurutkan Langkah Mbah Sarjo untuk Berhaji

    Komentar
    Additional JS