0
News
    Home Berita Featured Spesial

    Beginilah Reaksi Rasulullah Saat Melihat Hewan Tersiksa - Lirboyo

    6 min read

     

    Beginilah Reaksi Rasulullah Saat Melihat Hewan Tersiksa



    Pada hari menjelang Iduladha ini, kita menyaksikan banyak hewan ternak yang dijual untuk penyembelihan kurban mendatang. Namun tidak sedikit yang memperlakukan hewan tersebut secara kasar. Untuk itu, inilah reaksi Rasulullah saat melihat hewan tersiksa.

    Baca juga: Pembasmian Ikan Sapu-Sapu: Bolehkah Mengubur Hidup-Hidup?

    Reaksi Nabi Muhammad Melihat Keledai Tersiksa

    Di sebuah pasar Arab tempo dahulu, seekor keledai berjalan tertatih. Wajahnya penuh luka bakar akibat cap panas yang sengaja ditempelkan manusia. Dari hidungnya mengalir darah segar. Orang-orang mungkin menganggap itu biasa. Sekadar tanda kepemilikan ternak. Namun tidak bagi Rasulullah saw.

    Ketika beliau melihat pemandangan itu, wajah beliau berubah. Dengan nada murka bercampur iba, beliau bersabda:

    لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا

    “Allah melaknat orang yang melakukan ini.”

    Begitulah Islam memandang hewan. Bukan benda mati, alat pelampiasan apalagi sasaran hiburan. Mereka adalah makhluk bernyawa yang juga merasakan sakit, takut, dan tersiksa.

    Baca juga: Kriteria Memilih Istri

    Menyiksa Hewan Termasuk Dosa Besar

    Karena itu, Imam Ibnu Hajar al-Haitami memasukkan penyiksaan terhadap hewan sebagai dosa besar. Beliau menyebut berbagai bentuk kekejaman: memotong telinga atau hidung hewan tanpa kebutuhan, memberi cap di wajahnya, menjadikannya sasaran panah atau permainan, membunuhnya tanpa manfaat, hingga menyembelih tanpa belas kasih.

    Rasulullah saw. pernah memperingatkan:

    مَنْ مَثَّلَ بِذِي رُوحٍ ثُمَّ لَمْ يَتُبْ مَثَّلَ اللَّهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    “Barang siapa menyiksa makhluk bernyawa lalu tidak bertobat, maka Allah akan menyiksanya pada hari kiamat.”

    Ancaman ini menunjukkan bahwa rahmat Islam tidak berhenti pada manusia saja. Bahkan seekor burung kecil pun memiliki hak yang syariat jaga.

    Baca juga: Mengadakan Tahlilan Sampai Berutang?

    Reaksi Ibnu Umar ra. Saat Melihat Burung Dijadikan Mainan

    Suatu hari, Abdullah bin Umar melihat beberapa pemuda Quraisy sedang bermain panah. Namun yang dijadikan target bukan papan atau kayu, melainkan seekor burung hidup. Burung itu diikat, gemetar ketakutan, sementara anak-anak panah melesat ke arahnya disambut tawa para pemuda.

    Ketika melihat Ibnu Umar datang, mereka langsung bubar.

    Ibnu Umar berkata dengan marah:

    مَنْ فَعَلَ هَذَا؟ لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا إنَّ رَسُولَ اللَّهِ – ﷺ – لَعَنَ مَنْ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا

    “Siapa yang melakukan ini? Rasulullah saw. melaknat orang yang menjadikan makhluk bernyawa sebagai sasaran permainan!”

    Betapa sering manusia menjadikan penderitaan hewan sebagai hiburan. Dahulu dengan panah. Hari ini mungkin dengan konten, eksperimen, atau sekadar bahan tertawaan.

    Padahal Nabi saw. bersabda:

    مَنْ قَتَلَ عُصْفُورًا عَبَثًا عُجَّ إلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ يَا رَبِّ إنَّ فُلَانًا قَتَلَنِي عَبَثًا وَلَمْ يَقْتُلْنِي مَنْفَعَةً

    “Barang siapa membunuh seekor burung dengan sia-sia, maka pada hari kiamat burung itu akan mengadu kepada Allah: ‘Ya Tuhanku, si fulan membunuhku hanya untuk permainan, bukan untuk manfaat.’”

    Bayangkan. Seekor burung kecil yang dianggap tak berarti oleh manusia ternyata memiliki suara di hadapan Allah.

    Islam memang membolehkan penyembelihan hewan untuk dimakan. Namun bahkan pada saat membunuh pun, syariat tetap memerintahkan kasih sayang.

    Rasulullah saw. bersabda:

    إنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ: أَيْ سِكِّينَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

    “Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan dalam segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Tajamkanlah pisaunya dan tenangkan hewan sembelihannya.”

    Kambing yang Ketakutan Melihat Pisau yang Diasah

    Suatu ketika Nabi saw. melewati seseorang yang sedang mengasah pisau di depan seekor kambing yang telah direbahkan. Kambing itu menatap pisau tersebut dengan gelisah, seolah memahami apa yang akan terjadi.

    Nabi saw. menegurnya:

    أَفَلَا قَبْلَ هَذَا؟ أَتُرِيدُ أَنْ تُمِيتَهَا مَوْتَاتٍ؟ هَلَّا أَحْدَدْت شَفْرَتَك قَبْلَ أَنْ تُضْجِعَهَا؟

    “Tidakkah sebelumnya engkau lakukan itu? Apakah engkau ingin membunuhnya berkali-kali? Mengapa tidak engkau tajamkan pisaumu sebelum engkau merebahkannya?”

    Di zaman ketika kekerasan sering dianggap hiburan, ajaran Nabi saw. justru datang membawa kelembutan hingga kepada makhluk yang tak mampu berbicara. Seekor burung yang terbunuh sia-sia atau seekor kambing yang ketakutan melihat pisau—semuanya tidak luput dari perhatian Rasulullah saw.

    Barangkali di situlah letak kemuliaan Islam yang sesungguhnya: bukan hanya pada megahnya ibadah, tetapi pada lembutnya hati terhadap yang lemah.

    Referensi:

    Aḥmad bin Muḥammad bin ‘Alī bin Ḥajar al-Haitamī, al-Zawājir ‘an Iqtirāf al-Kabā’ir, jil. 1 (Beirut: Dār al-Fikr, cet. I, 1407 H/1987 M), hlm. 347–348.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

    Komentar
    Additional JS