0
News
    Update Haji
    Home Featured Spesial

    Benarkah di Akhirat Nabi Isa Menikah dengan Asiyah dan Nabi Muhammad dengan Maryam? - NU Online

    6 min read

     

    Benarkah di Akhirat Nabi Isa Menikah dengan Asiyah dan Nabi Muhammad dengan Maryam?

    Pernikahan Nabi Isa dengan Asiyah dan Nabi Muhammad dengan Maryam di akhirat

    Baru-baru ini, sebuah pernyataan menarik disampaikan oleh seorang ustadz dalam sebuah sesi podcast. Ia menuturkan bahwa nanti di akhirat kelak akan terjadi dua pernikahan agung. Pernikahan pertama antara Nabi Isa alaihissalam dengan istri Firaun, yaitu Asiah binti Muzahim. Sedangkan pernikahan kedua antara Nabi Muhammad dengan Maryam binti Imran, ibu dari Nabi Isa.

    Pernyataan ini tentu langsung mencuri perhatian publik karena terdengar unik dan jarang dibahas dalam literatur sejarah Islam. Nah, dalam kesempatan kali ini, penulis hendak menjelaskan dengan detail perihal benar dan tidaknya pernyataan tersebut, sesuai dengan referensi hadits Nabi dan penjelasan para ulama.

    Dua Pernikahan di Akhirat

    Berkaitan dengan pernyataan bahwa akan terjadi dua pernikahan di akhirat antara Nabi Muhammad dengan Maryam binti Imran, dan Isa dengan Asiah binti Muzahim, tidak ditemukan satu pun dalil atau nash yang menyatakan bahwa akan terjadi dua pernikahan di akhirat kelak, sepanjang penelusuran yang penulis cari di berbagai referensi-referensi hadits maupun kitab-kitab tafsir.

    Kendati demikian, penjelasan yang umum ditemukan dan sering disampaikan dalam berbagai kajian justru menyebutkan hal yang berbeda, yaitu Allah swt akan menikahkan Nabi Muhammad di surga kelak dengan Asiyah binti Muzahim dan Maryam binti Imran.

    Dalil yang dijadikan pijakan oleh para ulama tentang pernikahan Nabi Muhammad dengan Asiyah dan Maryam di akhirat adalah firman Allah dalam l-Qur’an surat At-Tahrim ayat 1-5. Ayat ini turun saat Nabi Muhammad melarang sesuatu yang halal demi menyenangkan hati dua istrinya, Hafshah dan Aisyah.

    Dalam kisahnya, Nabi pernah meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy dan tinggal cukup lama di tempat tersebut. Maka Hafshah dan Aisyah bersepakat untuk mengatakan bahwa mulut Nabi berbau tidak sedap agar beliau tidak mengulanginya lagi. Ketika Nabi bertemu dengan salah satu dari keduanya, dikatakanlah kepadanya bahwa mulut sang Nabi berbau sebab minuman tersebut. Saat itu pula, Nabi bersumpah untuk tidak minum madu lagi.

    Riwayat dari kisah di atas berasal dari Sayyidah Aisyah ra, kemudian dicatat oleh Imam Bukhari dalam kitab haditsnya. Berikut kutipannya:

    كَانَ رَسُول اللهِ يَشْرَبُ عَسَلًا عِنْدَ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ وَيَمْكُثُ عِنْدَهَا فَوَاطَيْتُ أَنَا وَحَفْصَةُ عَلَى أَيَّتُنَا دَخَلَ عَلَيْهَا فَلْتَقُلْ لَهُ أَكَلْتَ مَغَافِيرَ إِنِّي أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ مَغَافِيرَ قَالَ لَا وَلَكِنِّي كُنْتُ أَشْرَبُ عَسَلًا عِنْدَ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ فَلَنْ أَعُودَ لَهُ وَقَدْ حَلَفْتُ لَا تُخْبِرِي بِذَلِكَ أَحَدًا

    Artinya, “Rasulullah biasa meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy dan berlama-lama di sana. Maka, aku (Aisyah) dan Hafshah bersepakat bahwa siapa saja di antara kami yang didatangi oleh beliau, hendaklah berkata kepadanya: ‘Apakah engkau memakan maghafir (bau tidak sedap)? Karena sungguh aku mencium bau maghafir darimu.’

      Nabi bersabda: ‘Tidak, akan tetapi aku minum madu di rumah Zainab binti Jahsy, maka aku tidak akan mengulanginya lagi, dan aku sudah bersumpah. Janganlah engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun’.”

    (HR Al-Bukhari).

    Setelah peristiwa tersebut, turunlah teguran dari Allah di awal surat At-Tahrim, yang mempertanyakan kenapa Nabi memilih mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan (madu) hanya karena ingin menyenangkan hati istri-istri sang Nabi.

    Kemudian setelah melalui rangkaian teguran dan peringatan kepada kedua istrinya, Allah menutup dengan sebuah janji tepat di ayat kelima surat At-Tahrim. Allah menyatakan bahwa sekiranya Nabi menceraikan istri-istrinya yang ada, maka Dia akan menggantinya dengan istri-istri yang lebih baik, dan yang memiliki sifat-sifat mulia. Berikut kutipan ayatnya:

    عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

    Artinya, “Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang berserah diri, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, dan yang berpuasa, baik yang janda maupun yang perawan.” (QS. At-Tahrim: 5).

    Mengutip penjelasan Imam Ibnu Katsir, pada ayat di atas terdapat janji dari Allah kepada Nabi Muhammad untuk menikahkannya kelak di akhirat dengan wanita janda dan dengan wanita yang masih perawan. Adapun yang dimaksud janda adalah Asiyah bint Muzahim, istri Firaun, sedangkan yang dimaksud perawan adalah Maryam bint Imran, ibunda Nabi Isa.

    Simak penjelasannya berikut ini:

    وعد الله نبيه صلى الله عليه وسلم في هذه الآية أن يزوجه، فالثيب: آسية امرأة فرعون، وبالأبكار: مريم بنت عمران

    Artinya, “Allah menjanjikan kepada Nabi-Nya dalam ayat ini bahwa Dia akan menikahkannya. Adapun yang berstatus janda adalah Asiyah, istri Firaun, sedangkan yang perawan adalah Maryam binti Imran.” (Tafsir Ibnu Katsir, [Riyadh: Dar Thaibah, 1999 M], jilid VIII, halaman 166).

    Dengan demikian, berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa pernyataan yang menyebutkan akan terjadi dua pernikahan berbeda di akhirat antara Nabi Muhammad dengan Maryam dan Nabi Isa dengan Asiyah, tidak memiliki sandaran referensi dari kitab-kitab klasik yang mu’tabar.

    Sebab, sumber-sumber tafsir dan hadits justru menjelaskan bahwa kedua wanita mulia tersebut, baik Asiyah maupun Maryam, sama-sama dinikahkan dengan Nabi Muhammad. Dengan kata lain, tidak ditemukan satu pun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Isa alaihissalam akan menikah di akhirat dengan Asiyah.

    Selain tafsir di atas, terdapat pula beberapa riwayat hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah akan menikah dengan kedua wanita tersebut kelak di dalam surga, salah satunya adalah sebagaimana riwayat yang dicatat oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Jami’ul Ahadits, Nabi bersabda:

    يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللهَ زَوَّجَنِي مَرْيَمَ بِنْتَ عِمْرَانَ وَآسِيَةَ بِنْتَ مُزَاحِم فِي الْجَنَّةِ

    Artinya, “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah menikahkanku dengan Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim di surga.” (HR Ad-Dailami).

    Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda:

    عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ لِعَائِشَةَ: أَشَعَرْتِ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ زَوَّجَنِي فِي الْجَنَّةِ مَرْيَمَ بِنْتَ عِمْرَانَ وَكَلْثُمَ أُخْتَ مُوسَى وَامْرَأَةَ فِرْعَوْنَ؟

    Artinya, “Dari Abu Umamah ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda kepada Aisyah: ‘Tahukah engkau bahwa Allah Azza wa Jalla telah menikahkanku di surga dengan Maryam binti Imran, dengan Kalsum saudara perempuan Musa, dan dengan istri Firaun (Asiyah).” (HR. At-Thabarani).

    Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pernyataan ustadz dalam podcast tersebut, yang menyebutkan akan terjadi dua pernikahan berbeda di akhirat, yaitu Nabi Isa dengan Asiyah dan Nabi Muhammad dengan Maryam, adalah pernyataan yang tidak memiliki dasar dan sandaran yang kuat dari kitab-kitab hadits maupun tafsir yang mu’tabar.

    Sebaliknya, sumber-sumber yang otoritatif justru menunjukkan bahwa kedua wanita mulia tersebut, akan dinikahkan oleh Allah dengan Nabi Muhammad di surga, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Surat At-Tahrim ayat 5 oleh Imam Ibnu Katsir dan diperkuat oleh beberapa riwayat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ad-Dailami dan Imam Ath-Thabarani tersebut. Wallahu a’lam bisshawab.

    Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

    Komentar
    Additional JS