Inilah 4 Kebutuhan Rahasia Lansia yang Wajib Dipenuhi Petugas Haji 2026 - Inilah
Inilah 4 Kebutuhan Rahasia Lansia yang Wajib Dipenuhi Petugas Haji 2026
Komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan haji yang inklusif dan manusiawi kembali ditunjukkan pada penyelenggaraan ibadah haji 2026.
Melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, berbagai fasilitas khusus disiapkan demi mendukung kenyamanan jemaah lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, dan perempuan selama berada di Tanah Suci.
Di Sektor 2 Daerah Kerja (Daker) Makkah, layanan ramah lansia tidak hanya sebatas slogan.
Pemerintah menghadirkan fasilitas yang dirancang untuk membantu jemaah tetap mandiri menjalankan aktivitas dan ibadahnya, mulai dari modifikasi kamar hotel hingga sistem pendampingan psikologis dan sosial.
Koordinator Layanan Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 2 Daker Makkah, Mohammad Anang Firdaus, mengatakan kesiapan tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemenuhan hak-hak jemaah selama berhaji.
"Fasilitas handling ini bisa dibuka-tutup dan disesuaikan naik-turunnya. Keberadaan pegangan ini sangat krusial untuk membantu lansia agar bisa beraktivitas," ujar Anang di Makkah, dilansir dari Media Center Haji (MCH), Senin (18/5/2026).
Pegangan besi khusus atau handling dipasang di samping tempat tidur serta di area kamar mandi hotel.
Fasilitas itu menjadi penopang penting bagi jemaah lansia yang mengalami keterbatasan mobilitas agar tetap aman saat bergerak tanpa harus terus bergantung kepada orang lain.
Tak hanya itu, aksesibilitas hotel juga diperhatikan secara serius. Setiap hotel di Sektor 2 diwajibkan menyediakan minimal 10 kursi roda guna menunjang mobilitas jemaah.
Jalur landai atau ramp juga dipastikan tersedia mulai dari titik turun bus hingga akses masuk hotel, sehingga jemaah pengguna kursi roda dapat bergerak lebih nyaman dan aman.
Anang menjelaskan, pelayanan kepada lansia tidak berhenti pada penyediaan fasilitas fisik semata. Petugas juga memiliki tanggung jawab sosial untuk membangun kepedulian antarsesama jemaah.
"Selain memberikan pelayanan prima, pihaknya juga berkewajiban mengedukasi jemaah, terutama pada jemaah yang sehat untuk ikut peduli dan membantu sesama jemaah yang memiliki keterbatasan gerak," katanya.
Empat Kebutuhan Utama Lansia

Untuk memastikan tidak ada jemaah lansia yang terabaikan, Tim Landis Sektor 2 menjalankan program Visitasi Hotel secara berkala.
Dalam program tersebut, petugas memantau langsung kondisi jemaah serta memastikan empat kebutuhan utama mereka terpenuhi.
Pertama adalah kebutuhan biologis. Petugas memastikan asupan makanan disesuaikan dengan kondisi kesehatan jemaah.
Jika ada jemaah yang hanya dapat mengonsumsi makanan lunak seperti bubur, maka pihak sektor akan memastikan menu tersebut tersedia.
Selain makanan, petugas juga mendistribusikan berbagai kebutuhan tambahan seperti popok dewasa, underpad, hingga tisu basah.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat sebagian jemaah lansia membutuhkan perawatan khusus selama masa tinggal yang cukup panjang di Makkah.
Kedua ialah kebutuhan psikologis. Petugas aktif memberikan motivasi kepada jemaah yang mengalami penurunan semangat atau rasa rindu kepada keluarga di tanah air.
Salah satu bentuk dukungan yang diberikan ialah memfasilitasi panggilan video dengan keluarga agar kondisi emosional jemaah tetap stabil.
Ketiga, kebutuhan sosiologis. Petugas berupaya membangun interaksi sosial yang sehat antara jemaah lansia dengan jemaah lain agar tidak muncul rasa terisolasi atau pengotakan selama berada di lingkungan hotel.
Sementara yang terakhir adalah kebutuhan religi. PPIH memastikan seluruh jemaah lansia tetap dapat menjalankan rangkaian ibadah wajib dengan aman, terutama pelaksanaan Umrah Wajib yang menjadi bagian penting dalam ibadah haji.
Layanan haji ramah lansia ini menjadi salah satu wajah transformasi pelayanan haji Indonesia yang kini semakin menitikberatkan pada aspek kemanusiaan, aksesibilitas, dan penghormatan terhadap martabat jemaah.
Di tengah jutaan umat Muslim dari berbagai negara yang memadati Tanah Suci, perhatian terhadap kelompok rentan menjadi indikator penting keberhasilan pelayanan haji modern.