Dua Warga Nasrani Papua Pegunungan Ikut Merasakan Hangatnya Muktamar NU - Republika
REPUBLIKA.CO.ID,JOMBANG -- Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menjadi ruang perjumpaan warga Nahdliyin dari berbagai penjuru Indonesia. Namun, di tengah hiruk-pikuk perhelatan akbar tersebut, ada pemandangan menarik dari rombongan Papua Pegunungan.
Dua warga beragama Nasrani turut hadir bersama rombongan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Papua Pegunungan. Mereka datang bukan sebagai peserta Muktamar, melainkan sebagai saudara yang ingin menyaksikan dan ikut merasakan kebahagiaan atas keberadaan NU di tanah Papua.
Ketua PWNU Papua Pegunungan, Abdul Qahar Yelifele mengaku bangga melihat antusiasme dua warga Nasrani tersebut. Menurut dia, keduanya merasa senang dengan kehadiran dan kiprah NU di Papua sehingga terdorong untuk datang ke Jombang.
"Dan bahkan ada satu-dua orang yang ikut merasa bangga, mereka adalah saudara kami Nasrani, tetapi dengan rasa bangganya Nahdlatul Ulama, maka ikut hadir juga dalam kesempatan ini," ujar Abdul Qahar saat ditemui di depan Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026).
Kedua warga Nasrani tersebut memang tidak masuk ke arena utama Muktamar. PWNU Papua Pegunungan menyiapkan tempat khusus bagi mereka. Meski demikian, kehadiran mereka tetap menjadi bagian dari kebahagiaan rombongan Papua Pegunungan dalam mengikuti momentum besar NU tersebut.
"Ada dua. Dua orang yang hadir dan itu saya merasa bangga Pak, saya merasa sangat bangga sekali karena mereka saking senangnya, saking senangnya Nahdlatul Ulama di Papua, maka juga mereka hadir di arena ini. Namun mereka tidak masuk di dalam, kami siapkan tempat," ucapnya.
Bagi Abdul Qahar, kehadiran dua warga Nasrani itu memiliki makna lebih dari sekadar menemani rombongan. Hal tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa keberadaan NU di Papua mendapatkan apresiasi dari masyarakat lintas agama.
"Ini artinya merupakan bahwa kehadiran NU di tanah Papua itu merupakan apresiasi yang tinggi baik dari saudara kami baik Nasrani maupun umat yang beragama Islam di tanah Papua," katanya.
Halaman 2 / 2
Membawa Semangat Papua ke Jombang
Kehadiran rombongan PWNU Papua Pegunungan di Muktamar ke-35 NU juga terbilang cukup besar. Sebanyak 40 orang datang ke Jombang, terdiri atas pengurus PWNU dan pengurus cabang dari delapan kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan.
Abdul Qahar menyebut rombongan tersebut menjadi salah satu rombongan PWNU yang hadir dalam jumlah besar dalam Muktamar. Mereka datang membawa semangat dari tanah Papua sekaligus mengikuti pembahasan mengenai arah perjalanan NU ke depan.
"Yang kami hadir adalah mungkin bagian peserta yang lebih banyak dari seluruh PWNU se-Indonesia. Dan kami hadir di sini adalah jumlah dari PW maupun pengurus cabang delapan kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan, jumlah yang cukup banyak yaitu 40 orang yang hadir," ujarnya.
Bagi PWNU Papua Pegunungan, Muktamar bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan atau penyusunan program organisasi. Forum lima tahunan itu juga menjadi momentum memperkuat persaudaraan dan menyatukan langkah warga NU dari berbagai daerah.
Karena itu, Abdul Qahar berharap seluruh rangkaian Muktamar ke-35 NU berjalan aman, tertib, dan lancar. Ia juga mengingatkan agar perbedaan pandangan dalam forum tidak berkembang menjadi konflik.
Menurut dia, perdebatan merupakan hal yang wajar dalam sebuah organisasi besar. Namun, tradisi NU berupa musyawarah harus tetap menjadi jalan utama dalam menentukan arah organisasi.
Ia berharap seluruh peserta mengedepankan suasana kekeluargaan dan menghindari pertentangan yang dapat merusak persaudaraan.
Dengan begitu, Muktamar NU di Tambakberas tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya warga Nahdliyin dari berbagai daerah, tetapi juga menghadirkan gambaran bagaimana NU dapat diterima dan diapresiasi oleh masyarakat lintas agama, termasuk dari tanah Papua.