Kontroversi Buku Islam Ala Prabowo: Siapa Penulis, Apa Isinya, dan Mengapa Jadi Polemik? - Inilah

Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam mendadak menjadi perbincangan publik. Padahal, buku yang mengulas sisi keislaman Presiden Prabowo Subianto tersebut bukan terbitan baru.
Buku itu telah terbit sejak April 2025 dan diluncurkan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS pada 26 Agustus 2025. Namun, lebih dari setahun kemudian, buku tersebut kembali menjadi sorotan setelah muncul keberatan dari sejumlah tokoh yang namanya dikaitkan dengan tulisan di dalamnya.
Polemik kemudian berkembang. Pertanyaan publik bukan lagi hanya mengenai apa isi Islam Ala Prabowo, tetapi juga siapa sebenarnya penulis buku tersebut, bagaimana materi dari para tokoh dikumpulkan, siapa yang menggagas penerbitannya, hingga bagaimana nama narasumber ditempatkan dalam sejumlah tulisan.
Lantas, apa sebenarnya buku Islam Ala Prabowo dan mengapa kontroversinya mencuat?
Apa Itu Buku Islam Ala Prabowo?
Buku ini memiliki judul lengkap Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam.
Katalog Gramedia mencantumkan tiga nama yang terkait dengan kepenulisan buku, yakni Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas.
Deskripsi buku menunjukkan bahwa Islam Ala Prabowo mencoba melihat perjalanan dan kiprah Prabowo dari perspektif yang berbeda dibandingkan biografi politik pada umumnya.

Fokusnya berada pada hubungan Prabowo dengan nilai-nilai keagamaan dan keumatan. Buku tersebut hendak membuka ruang interpretasi mengenai posisi Prabowo dalam kehidupan umat Islam, meski Prabowo sendiri tidak berasal dari latar belakang yang lazim diasosiasikan dengan kehidupan santri.
Dengan demikian, buku ini bukan sekadar biografi perjalanan politik Prabowo. Ada upaya membangun pembacaan mengenai cara Prabowo memahami dan menjalankan nilai Islam dalam kehidupan, kepemimpinan, kebangsaan hingga politik.
Siapa Penulis Islam Ala Prabowo?
Pertanyaan mengenai siapa penulis Islam Ala Prabowo justru menjadi salah satu bagian menarik dalam polemik buku ini.
Katalog Gramedia mencantumkan tiga nama:
Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas.
Namun, keberadaan nama sejumlah ulama, pejabat dan tokoh nasional dalam bagian-bagian buku tidak serta-merta berarti seluruh tokoh tersebut merupakan penulis buku.
Hal ini menjadi penting setelah sejumlah pihak menjelaskan bentuk keterlibatan mereka.
Yusril Ihza Mahendra, misalnya, menegaskan dirinya bukan penulis Islam Ala Prabowo. Yusril mengatakan dirinya pernah diwawancarai oleh tim penyusun jauh sebelum menjabat sebagai menteri. Ia juga mengatakan tidak pernah dilibatkan dalam penentuan judul buku.
Dengan kata lain, perlu dibedakan antara penyusun buku, penulis tulisan, kontributor, dan narasumber wawancara.
Perbedaan status inilah yang kemudian berada di jantung kontroversi Islam Ala Prabowo.
Siapa Penggagas Buku Islam Ala Prabowo?
Jejak awal penerbitan buku juga dapat ditelusuri dari dokumentasi sebelum peluncurannya.
BAZNAS pada Agustus 2025 menyatakan peluncuran Islam Ala Prabowo Subianto akan menjadi salah satu agenda Rakornas BAZNAS 2025. Dalam keterangan tersebut disebutkan buku itu diinisiasi Ketua MPR Ahmad Muzani bersama Ketua MUI KH Anwar Iskandar.
Informasi serupa tercatat dalam pemberitaan Antara ketika buku diluncurkan pada 26 Agustus 2025.
Artinya, Ahmad Muzani dan KH Anwar Iskandar memiliki posisi penting dalam sejarah kelahiran buku tersebut.
Namun, istilah "diinisiasi" belum dengan sendirinya menjelaskan seluruh proses editorial: siapa yang memilih penyusun, bagaimana narasumber ditentukan, bagaimana wawancara diolah menjadi tulisan, hingga siapa yang memberikan persetujuan akhir terhadap judul setiap bagian.
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian menjadi relevan setelah kontroversi muncul.
Mengapa Buku Islam Ala Prabowo Jadi Kontroversi?
Polemik mencuat setelah sejumlah tokoh mempertanyakan pencantuman nama maupun bentuk keterlibatan mereka dalam buku.
Salah satu yang terbuka menyampaikan keberatan adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar.
Gus Kautsar mempermasalahkan dua hal: judul tulisan yang dikaitkan dengannya serta ketidaktransparanan ketika materi tersebut akhirnya diterbitkan menjadi buku.
Persoalan ini menjadi menarik karena Gus Kautsar memang mengakui pernah menerima seseorang yang disebutnya sebagai utusan salah satu penulis.
Pertemuan tersebut terjadi sekitar pertengahan 2024. Dalam pertemuan itu berlangsung wawancara yang antara lain membicarakan kebangsaan, pesantren, keberagaman dan kemerdekaan.
Namun, persoalan muncul ketika kemudian terdapat tulisan yang dikaitkan dengan Gus Kautsar dengan judul "Dukungan Pesantren untuk Prabowo Subianto."
Gus Kautsar menyatakan menyesalkan judul tersebut dan proses penerbitan yang menurutnya tidak transparan.
Kasus ini membuka persoalan yang lebih luas daripada sekadar pencantuman sebuah nama: bagaimana wawancara seorang narasumber diolah, diberi judul, dan kemudian diterbitkan dalam sebuah buku?
Yusril: Saya Narasumber, Bukan Penulis
Klarifikasi Yusril Ihza Mahendra memberikan perspektif lain mengenai mekanisme penyusunan buku.
Yusril mengakui pernah diwawancarai tim penyusun. Namun, ia menegaskan tidak terlibat dalam penentuan judul buku. Menurut Yusril, perdebatan yang berkembang justru banyak dipicu oleh judul yang dapat melahirkan beragam persepsi.
Menariknya, Yusril tidak mempermasalahkan substansi pandangannya yang dimuat dalam buku. Ia menilai secara umum tidak ada persoalan mendasar dengan isi tersebut.
Keterangan Yusril menunjukkan bahwa kontroversi Islam Ala Prabowo tidak dapat disederhanakan menjadi anggapan bahwa semua nama yang muncul merasa keberatan.
Persoalannya lebih kompleks: masing-masing tokoh dapat memiliki bentuk keterlibatan dan sikap berbeda terhadap materi yang dikaitkan dengan mereka.
Apa Hubungan BAZNAS dengan Buku Islam Ala Prabowo?
Nama BAZNAS ikut menjadi perhatian karena Islam Ala Prabowo diluncurkan dalam Rakornas BAZNAS pada 26 Agustus 2025.
Namun, BAZNAS pada 7 September 2026 menegaskan tidak ada dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang digunakan untuk pembuatan maupun penerbitan buku tersebut.
Menurut BAZNAS, keterlibatan lembaga itu dalam peluncuran buku berada dalam konteks hubungan kelembagaan dan literasi dakwah keagamaan.
Klarifikasi tersebut penting karena memisahkan dua persoalan berbeda: BAZNAS sebagai tempat atau platform peluncuran buku dan pihak yang membiayai proses produksi buku.
Berdasarkan pernyataan resmi BAZNAS, dana ZIS tidak digunakan untuk pembuatan maupun penerbitan Islam Ala Prabowo.
Apakah Prabowo Menulis Buku Islam Ala Prabowo?
Jawabannya: bukan.
Nama Prabowo Subianto menjadi subjek utama buku, bukan nama yang tercantum sebagai salah satu dari tiga penulis pada katalog Gramedia.
Buku tersebut justru berusaha membaca perjalanan dan kepemimpinan Prabowo melalui perspektif Islam dan kehidupan keumatan.
Perbedaan ini penting karena penggunaan nama "Prabowo" dalam judul berpotensi membuat sebagian pembaca mengira buku tersebut merupakan karya atau autobiografi langsung Presiden.
Sejauh sumber terbuka yang dapat diverifikasi, belum terdapat dasar untuk menyimpulkan bahwa Prabowo sendiri menulis buku tersebut.
Demikian pula, keterlibatan langsung Prabowo dalam proses editorial, pemilihan kontributor, maupun penentuan judul sebaiknya tidak diasumsikan tanpa keterangan atau bukti yang dapat diverifikasi.
Dari Wawancara Menjadi Tulisan, Di Sini Pangkal Persoalannya?
Kontroversi Islam Ala Prabowo pada akhirnya membuka isu yang lebih besar dalam dunia penerbitan: batas antara narasumber dan penulis.
Wawancara memang lazim digunakan sebagai sumber dalam penulisan buku. Namun, persoalan menjadi berbeda apabila hasil wawancara kemudian disusun menjadi sebuah tulisan dan nama narasumber ditempatkan sedemikian rupa sehingga pembaca dapat mengartikannya sebagai atribusi kepengarangan.
Kasus Gus Kautsar dan penjelasan Yusril menunjukkan pentingnya mengetahui mekanisme editorial Islam Ala Prabowo secara utuh.
Siapa yang melakukan wawancara? Siapa yang mentranskripsikannya? Siapa yang mengubah hasil wawancara menjadi tulisan? Siapa yang menentukan judul? Apakah naskah akhir diperlihatkan kembali kepada narasumber?
Jawaban atas pertanyaan tersebut penting untuk membedakan antara persoalan substansi buku dan persoalan prosedur editorial.
Mengapa Islam Ala Prabowo Kembali Ramai pada 2026?
Buku ini sebenarnya telah diluncurkan sejak Agustus 2025. Kontroversi besar justru mengemuka pada September 2026 setelah muncul keberatan dan klarifikasi dari tokoh-tokoh yang namanya dikaitkan dengan isi buku.
Karena itu, polemik Islam Ala Prabowo mempunyai dua lapisan.
Lapisan pertama adalah substansi: bagaimana buku menggambarkan hubungan Prabowo dengan Islam, umat, pesantren, moderasi, keadilan dan kepemimpinan.
Lapisan kedua adalah proses editorial: bagaimana materi diperoleh dan bagaimana status para tokoh yang namanya muncul di dalam buku.
Lapisan kedua inilah yang kini lebih banyak menjadi sumber perdebatan.
Kontroversi yang Belum Sepenuhnya Terjawab
Polemik Islam Ala Prabowo menunjukkan bahwa kontroversi sebuah buku tidak selalu lahir dari apa yang tertulis di dalamnya. Persoalan juga dapat muncul dari bagaimana tulisan tersebut diproduksi dan kepada siapa kepengarangan atau pandangan diatribusikan.
Sejumlah fakta dasarnya sudah terang. Buku terbit pada 2025, tiga nama tercantum dalam katalog Gramedia, Ahmad Muzani dan KH Anwar Iskandar disebut sebagai inisiator, serta peluncurannya berlangsung dalam Rakornas BAZNAS 2025.
Namun, masih ada ruang yang perlu dijelaskan oleh pihak penyusun dan penerbit, terutama mengenai mekanisme pengumpulan materi, proses wawancara, penyusunan naskah, pemberian judul, atribusi nama, dan persetujuan narasumber.