0
News
    Home Featured Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at Spesial

    Khutbah Jumat: Mi’raj Baginda Nabi dan Perjuangannya Meringankan Kewajiban Umat - NU Online

    9 min read

     

    Khutbah Jumat: Mi’raj Baginda Nabi dan Perjuangannya Meringankan Kewajiban Umat

    NU Online  ·  Rabu, 14 Januari 2026 | 14:00 WIB

    Ilustrasi isra' mi'raj. Sumber: Canva/Nu Online.

    Muhaimin Yasin

    Kolomnis

    Meskipun ibadah merupakan kewajiban setiap hamba kepada Tuhan, namun dalam konteks pengerjaannya ialah berlaku sebagai pembebanan tanggung jawab. Sekalipun begitu, tekanan ini tidak akan pernah melewati kapasitas manusia. Akan tetapi perlu diketahui, dulu, Nabi Muhammad Saw pernah berjuang agar umatnya tidak terlalu berat dalam melaksanakan ibadah. Peristiwa itu terjadi pada saat Mi’raj.


    Khutbah Jumat berikut berjudul “Mi’raj Baginda Nabi dan Perjuangannya Meringankan Kewajiban Umat”, Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini. Semoga bermanfaat.


    Khutbah I

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ، فَشَرَّفَهُ بِمِعْرَاجِهِ، وَقَرَّبَهُ بِمُنَاجَاتِهِ، وَخَصَّهُ بِرَحْمَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِي قَائِلَهَا عِنْدَ لِقَائِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، بَلَّغَ وَصَبَرَ وَجَاهَدَ فِي اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنْ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالَى، وَ قَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ


    Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

    Baca Juga

    Khutbah Jumat Isra Mi’raj: Ujian dan Penghambaan hingga Anugerah Kemuliaan

    Segala puji patut kita haturkan kepada Allah atas limpahan nikmat yang terus mengalir dalam kehidupan kita. Dengan kasih sayang dan pertolongan-Nya berbagai urusan dimudahkan, kecukupan rezeki dianugerahkan, dan hati diberi kelapangan dalam menjalani hari. Karena itu pada waktu yang penuh keberkahan ini, kita kembali dipertemukan dalam suasana Jumat yang mulia, untuk menundukkan hati dan mendekatkan diri kepada-Nya.

    Shalawat dan salam semoga senantiasa terlantun bagi Nabi Muhammad SAW, sosok pribadi agung yang menghadirkan cahaya keteladanan bagi umat manusia. Beliau adalah sosok yang mengajarkan kebijaksanaan dalam bersikap, kesungguhan dalam berjuang, dan lemah-lembut dalam membimbing. Semoga limpahan rahmat yang sama juga tercurah kepada keluarga beliau para sahabat para tabi’in serta siapa pun yang setia menapaki jalan hidup yang beliau wariskan.

    Selanjutnya marilah kita memperkuat ketakwaan kepada Allah ta'ala dengan kesadaran yang tumbuh dari dalam diri. Takwa menjadi benteng yang menjaga manusia dari kerusakan perilaku dan kegelisahan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Di antara wujud ketakwaan yang paling dekat dan mudah diamalkan adalah dengan perantara mengikuti keseharian Rasulullah Saw, para sahabatnya dan ulama. Dalam QS. Al-Maidah ayat 35, Allah berfirman:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.”

    Baca Juga

    Khutbah Jumat Isra Mi’raj: Shalat dan Kemaslahatan Sosial

    Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

    Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa yang bersejarah bagi umat Islam. Sebab padanya tersimpan memori beragam kejadian penuh hikmah yang menjelaskan eksistensi Tuhan. Yakni ketika Dia mampu menggerakkan Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram, Mekkah hingga Masjidil Aqsha, Yerusalem dan membawanya ke Sidratil Muntaha (haribaan Allah) dalam satu malam.

    Perjalanan dari Al-Haram menuju Al-Aqsha, dalam peristiwa Isra’, apabila menggunakan mode transportasi di zaman tersebut, berupa unta, maka seharusnya Nabi SAW akan menghabiskan 40 hari. Sehingga hal ini diabadikan oleh Allah Swt dalam QS. Al-Isra’ ayat 1:


    سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

    Artinya: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnyaagar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

    Sedangkan kabar Mi’raj, perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Bumi ke Sidratil Muntaha itu diabadikan dalam Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 13-15:


    وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ


    Artinya: “Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”


    Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

    Pada moment Mi’raj ke Sidratil Muntaha ini, Nabi Muhammad SAW menerima ketetapan syariat Islam secara langsung dari Allah ta'ala. Yakni berupa shalat sebanyak lima puluh kali dalam sehari-semalam. Namun di waktu tersebut, Nabi Saw bernegosiasi dengan Tuhan, sehingga disahkan kewajiban shalat lima kali sehari-semalam. Sebagaimana yang kita saksikan dan kerjakan selama ini.


    Kisah penetapan shalat lima puluh waktu dalam sehari-semalam dan proses negosiasi ini, secara langsung dikisahkan Rasulullah SAW melalui haditsnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

    قَالَ ابْنُ حَزْمٍ وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَفَرَضَ اللّٰهُ عَلَى أُمَّتِي ‌خَمْسِينَ ‌صَلَاةً، فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ، حَتَّى مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى، فَقَالَ: مَا فَرَضَ اللّٰهُ لَكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ: فَرَضَ ‌خَمْسِينَ ‌صَلَاةً، قَالَ: فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ، فَرَاجَعَنِي فَوَضَعَ شَطْرَهَا، فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، قُلْتُ: وَضَعَ شَطْرَهَا، فَقَالَ: رَاجِعْ رَبَّكَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ، فَرَاجَعْتُ فَوَضَعَ شَطْرَهَا، فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ، فَقَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ، فَرَاجَعْتُهُ، فَقَالَ: هِيَ خَمْسٌ، وَهِيَ خَمْسُونَ، لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ، فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، فَقَالَ: رَاجِعْ رَبَّكَ، فَقُلْتُ: اسْتَحْيَيْتُ مِنْ رَبِّي، ثُمَّ انْطَلَقَ بِي، حَتَّى انْتَهَى بِي إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، وَغَشِيَهَا أَلْوَانٌ لَا أَدْرِي مَا هِيَ، ثُمَّ أُدْخِلْتُ الْجَنَّةَ، فَإِذَا فِيهَا حَبَايِلُ اللُّؤْلُؤِ، وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ

    Artinya: “Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata: Rasulullah bersabda, maka Allah mewajibkan atas umatku lima puluh shalat. Aku pun kembali dengan ketetapan itu, hingga aku melewati Nabi Musa. Ia bertanya, ‘Apa yang Allah wajibkan atas umatmu?’ Aku menjawab, ‘Allah mewajibkan lima puluh shalat.’ Nabi Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya.’ Maka aku pun kembali (kepada Allah), lalu Allah mengurangi separuhnya. Aku kembali menemui Nabi Musa dan berkata, ‘Allah telah mengurangi separuhnya.’ Ia berkata lagi, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup.’Aku kembali lagi, lalu Allah mengurangi separuhnya. Aku kembali menemui Nabi Musa, lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya.’ Maka aku kembali kepada-Nya, lalu Allah berfirman, ‘Shalat itu lima waktu, tetapi nilainya lima puluh. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah.’ Aku kembali menemui Nabi Musa, lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu.’ Namun aku menjawab, ‘Aku merasa malu kepada Tuhanku.’ Kemudian aku dibawa pergi hingga sampai ke Sidratul Muntaha, yang diselubungi oleh warna-warna yang aku sendiri tidak mengetahui hakikatnya. Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga. Ternyata di dalamnya terdapat anyaman dari mutiara, dan tanahnya adalah kasturi.” (HR. Bukhari)

    Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

    Dari kisah perjuangan nabi meringankan kewajiban syariat kita dalam peristiwa Mi’raj ini, kita dapat mengambil pelajaran berharga betapa besar kasih sayang dan tanggung jawab Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.


    Kewajiban shalat yang semula berjumlah lima puluh kali tidak serta-merta beliau terima tanpa memikirkan kemampuan umat, ditambah dengan masukan dari Nabi Musa As. Dengan penuh kerendahan hati, Nabi SAW berulang kali kembali menghadap Allah, demi meringankan beban umatnya. Meskipun akhirnya Beliau malu untuk memohon keringanan lagi.

    Hikmah lainnya, keringanan shalat menjadi lima waktu adalah rahmat besar dari Allah sekaligus amanah yang tidak boleh disepelekan. Meski jumlahnya diringankan, nilainya tetap lima puluh, menandakan betapa agungnya shalat dalam Islam.

    Maka, tidak pantas bagi kita meremehkan shalat yang sudah dipermudah oleh Allah melalui perjuangan Nabi-Nya. Oleh sebab itu, selanjutnya, mari kita bertekad untuk tetap mengerjakan shalat lima waktu, tanpa terlewat.

    بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


    Khutbah II

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى


    وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


    اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

    Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman.

    Komentar
    Additional JS