0
News
    Home Featured Gabah Spesial Zakat Pertanian

    Zakat Pertanian: Bolehkah dari Gabah? Ini Batas Nishabnya! - Lirboyo

    6 min read

     

    Zakat Pertanian: Bolehkah dari Gabah? Ini Batas Nishabnya!

    Petani padi merupakan salah satu profesi yang banyak kita jumpai di kalangan masyarakat Indonesia. Saat musim panen tiba, semua pihak saling bahu-membahu agar hasil panen dapat kita peroleh secara maksimal. Pemilik lahan biasanya mempekerjakan masyarakat ekonomi menengah ke bawah untuk membantu proses panen. Dalam ajaran Islam, terdapat kewajiban zakat bagi mereka yang hasil padinya telah mencapai nisab. Namun, timbul pertanyaan: apakah zakat boleh kita keluarkan dalam bentuk padi yang masih berupa gabah?

    Baca juga: Sawah Tercampur Air Bekas Basuhan Babi, Najiskah?

    Makanan pokok termasuk zakat mal

    Zakat mal (harta) dalam kitab Fath al-Qarib terdapat lima macam; salah satunya adalah az-zuru’ (tanaman) namun yang kami maksud di sini adalah makanan pokok. [Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad, Fath al-Qarīb, cet. 1 (Beirut: Dār Ibn Ḥazm, 1425 H/2005 M). Hal. 119].

    Baca juga: Hukum dan Etika Menguap dalam Salat

    Syarat wajib zakat pada makanan pokok

    Sedangkan syarat wajib zakat pada bahan makanan pokok adalah sebagai berikut:

    1. Tanaman tersebut adalah sesuatu yang ditanam, yakni dibudidayakan oleh manusia (al-ādāmiyyūn); maka jika tumbuh dengan sendirinya karena terbawa air atau angin, tidak wajib zakat padanya;
    2. Bahwa ia merupakan makanan pokok yang dapat kita simpan. Maka yang tidak termasuk makanan pokok seperti rempah-rempah, semisal jinten (al-kammūn), tidak termasuk dalam kategori wajib zakat;
    3. Dan hasil tersebut mencapai nisab, yaitu lima wasaq tanpa kulit padinya. .  [Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Muhammad, Fath al-Qarīb, cet. 1 (Beirut: Dār Ibn Ḥazm, 1425 H/2005 M). Hal. 121].

    Baca juga: Salat Subuh Kesiangan? Begini Cara Baca Qunut Tanpa Jadi Perbincangan

    Ketentuan pengeluaran zakat

    Kemudian dalam ketentuannya, ada perbedaan mengenai zakat yang harus kita keluarkan, karena itu tergantung terhadap airnya.

    وَفِي قُوتٍ كَبِرٍ وَأَرُزٍّ وَتَمْرٍ وَعِنَبٍ بَلَغَ خَمْسَةَ أَوْسُقٍ مُنَقًّى: عُشْرٌ إِنْ سُقِيَ بِلا مُؤْنَةٍ، وَإِلَّا فَنِصْفُهُ.

    Dan pada makanan pokok seperti gandum besar (barley), beras, kurma, dan anggur yang telah mencapai lima wasaq setelah bersih (dari kulit atau kotoran), maka zakatnya adalah sepersepuluh jika kita siram tanpa biaya (misalnya dengan air hujan atau sungai). Namun jika kita siram dengan biaya (misalnya irigasi buatan), maka zakatnya setengah dari sepersepuluh (yaitu satu dua puluh). [Zainuddin bin Ahmad al-Malībārī, Fatḥ al-Muʿīn cet. 1, (Beirut: Dār Ibn Ḥazm.) Hal. 235].

    Baca juga: Hukum Wudu bagi Difabel: Perlukah Membasuh Anggota Tubuh Palsu?

    Bagaimana kalau yang dikeluarkan bentuk gabahnya?

    Sedangkan apabila dalam mengeluarkan zakat padi tapi masih berbentuk gabah, maka hukumnya boleh, tapi kulit gabah tidak masuk dalam hitungan berat nishab (5 wasaq) dan berat zakat yang kita keluarkan. Sehingga, agar sah zakatnya harus dikira-kirakan sesuai dengan kurs timbangan saat sudah menjadi beras.

    Hal ini sebagaimana keterangan dalam kitab Mughni al-Muhtaj yang berupa:

    (وَمَا اُدُّخِرَ فِي قِشْرِهِ) وَلَمْ يُؤْكَلْ مَعَهُ (كَالْأَرُزِّ وَالْعَلَسِ) وَهُوَ بِفَتْحِ الْعَيْنِ وَاللَّامِ: نَوْعٌ مِنْ الْحِنْطَةِ كَمَا سَيَأْتِي (فَ) نِصَابُهُ (عَشَرَةُ أَوْسُقٍ) اعْتِبَارًا بِقِشْرِهِ الَّذِي ادِّخَارُهُ فِيهِ أَصْلَحُ لَهُ أَوْ أَبْقَى بِالنِّصْفِ، فَعُلِمَ أَنَّهُ لَا تَجِبُ تَصْفِيَتُهُ مِنْ قِشْرِهِ وَأَنَّ قِشْرَهُ لَا يَدْخُلُ فِي الْحِسَابِ. فَلَوْ كَانَتْ الْخَمْسَةُ أَوْسُقٍ تَحْصُلُ مِنْ دُونِ الْعَشَرَةِ اعْتَبَرْنَاهُ أَوَّلًا يَحْصُلُ مِنْ الْعَشَرَةِ خَمْسَةُ أَوْسُقٍ فَلَا زَكَاةَ فِيهَا، وَإِنَّمَا ذَلِكَ جَرَى عَلَى الْغَالِبِ.

    (Dan apa saja yang tersimpan bersama kulitnya) namun tidak dimakan bersama kulitnya (seperti beras dan al-‘alas) — al-‘alas adalah jenis gandum, sebagaimana akan dijelaskan —
    maka nisabnya adalah sepuluh wasaq, karena mempertimbangkan kulitnya yang penyimpanannya lebih baik atau lebih tahan lama, sehingga terhitung setengah lebih besar dari biasa. Maka kita ketahui bahwa tidak wajib mengupas kulitnya terlebih dahulu, dan kulitnya tidak masuk dalam hitungan nisab. Jika lima wasaq dapat kita peroleh dari jumlah kurang dari sepuluh wasaq (dengan kulit), maka kita pertimbangkan dulu: apakah dari sepuluh wasaq itu bisa kita dapat lima wasaq setelah dikupas? Jika tidak, maka tidak ada zakat atasnya. Akan tetapi, hal ini berdasarkan pada kondisi yang umum terjadi (ghālib al-ḥāl). [Muḥammad bin Muḥammad asy-Syarbīnī, Mughnī al-Muḥtāj ilā Maʿrifah Maʿānī Alfāẓ al-Minhāj, tahkik dan ta‘liq oleh ‘Alī Muḥammad Mu‘awwaḍ dan ‘Ādil Aḥmad ‘Abd al-Mawjūd, cet. 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415 H/1994 M), vol. 2 hal. 83].

    Baca juga: Tata Cara Mencuci Pakaian Najis Dengan Mesin Cuci

    Detail ukuran zakat pada gabah

    Untuk itu, lebih detailnya, nishab gabah kering adalah 1323,132 kg (1,3 ton). Berarti, zakat yang harus dikeluarkan jika petani tidak mengeluarkan biaya pengairan adalah 10%, atau sebesar 132,3132 kg (1,4 kuintal). Jika petani mengeluarkan biaya pengairan, maka zakatnya 5% atau 66,1566 kg. (67 kg).

    Sedangkan dalam kitab Fath Al-Qadir, al-Maghfurlah K.H. Ma’shum Ali Jombang memberikan penjelasan bahwa nishab padi adalah 1631,516 kg (1 ton 6 kwintal 31,5 kg), sementara apabila telah menjadi beras maka nisabnya adalah 815,758 kg (8 kwintal, 15,7 kg). Wallhu a’lam

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo


    Komentar
    Additional JS