Kultum Ramadhan: Utamakan Kejujuran, Supaya Hidup Lebih Bermakna - NU Online - Opsiinfo9

Post Top Ad

demo-image

Kultum Ramadhan: Utamakan Kejujuran, Supaya Hidup Lebih Bermakna - NU Online

Share This
Responsive Ads Here

 

Kultum Ramadhan: Utamakan Kejujuran, Supaya Hidup Lebih Bermakna

Mempunyai kepribadian yang jujur dapat memberikan banyak manfaat bagi kelangsungan hidup manusia, baik selama di dunia maupun di akhirat kelak. Salah satu dampak yang signifikan ketika memiliki sifat tersebut ialah mendapatkan ketenangan.


Tentu saja, ketenangan yang diperoleh dari kejujuran ini bukan hanya sekedar perasaan biasa. Akan tetapi laksana anugerah Tuhan yang amat istimewa. Orang yang selalu menerapkan prinsip jujur pasti akan merasa lebih ringan dalam menjalankan hidup dan tidak akan pernah dihantui oleh ketakutan akibat dari kecurangan, kebohongan serta tindakan tercela lainnya.


Sebagaimana sebuah hadits Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bersumber dari Rabi’ah bin Syaiban atau yang terkenal dengan Abu al-Haura’ as-Sa’di:


عَنْ أَبِي الحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ، قَالَ: قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ: مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌دَعْ ‌مَا ‌يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ، وَإِنَّ الكَذِبَ رِيبَةٌ


Artinya: Dari Abu al-Haura’ as-Sa’di, ia berkata: Aku bertanya kepada Al-Hasan bin Ali: “Apa yang engkau hafal dari (hadits) Rasulullah Saw?” Al-Hasan menjawab, Aku menghafal dari Rasulullah, bahwasanya beliau bersabda: “Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu dan berpalinglah kepada hal yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran itu menenangkan, sedangkan berbohong itu membimbangkan.” (HR. Tirmidzi)


Esensi Jujur Dalam Kehidupan

Dalam menjalani rutinitas kehidupan sehari-hari, kejujuran sering kali menjadi satu-satunya prinsip yang selalu diuji. Disebabkan karena mayoritas orang cenderung memiliki dorongan untuk melakukan kebohongan demi keuntungan sesaat. Apalagi kalau menyangkut urusan dengan jabatan. Semua hal bisa dilakukan, asalkan tujuan tercapai.


Contoh nyata yang dapat disaksikan bersama, ketika menjelang penyelenggaraan kontestasi pemilu di Indonesia. Mayoritas dari calon dewan legislatif atau eksekutif, baik di tingkat daerah maupun pusat, mengobral janji dengan beragam retorika yang meyakinkan. Seakan-akan mereka serempak mengedepankan kepentingan rakyat dalam setiap program yang akan dijalankan.


Namun kenyataannya ketika para dewan tersebut terpilih, kebanyakan dari mereka seolah lupa dan tidak peduli terhadap apa yang pernah disampaikan. Hal terburuknya adalah mereka berani membohongi masyarakat atas kepentingan pribadi. Begitu juga dalam urusan lain, masih banyak dari masyarakat yang tidak menerapkan perilaku jujur dalam kehidupan.

 

Dalam Islam, kejujuran ditegaskan sebagai sifat mulia yang dimiliki oleh orang-orang istimewa dan dapat bersanding dengan ketakwaan. Hal ini secara instruksional disampaikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, surat At-Taubah ayat 119:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!”


Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab Mafatihul Ghaib (Beirut, Darul Ihya’ At-Turats, 1999, 16: 166-168) menjelaskan tentang QS. At-Taubah ayat 119 ini dengan dua poin pembahasan yang mendetail. Salah satunya memaparkan bahwa ayat ini menunjukkan adanya keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki oleh sifat jujur.


Untuk menguatkan argumentasinya, Ar-Razi mencantumkan dua riwayat yang menjelaskan tentang anugerah keistimewaan bagi siapa saja yang memiliki sifat jujur.


1. Hadits Pertama: Jujur Mampu Mengubah Ahli Maksiat Menjadi Taat


رُوِيَ أَنَّ وَاحِدًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَالَ: إِنِّي رَجُلٌ أُرِيْدُ أَنْ أُؤْ مِنَ بِكَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ الْخَمْرَ وَالزِّنَا وَالسَّرِقَةَ وَالْكَذِبَ، وَالنَّاسُ يَقُولُونَ إِنَّكَ تُحَرِّمُ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ وَلَا طَاقَةَ لِي عَلَى تَرْكِهَا بِأَسْرِهَا، فَإِنْ قَنِعْتَ مِنِّي بِتَرْكِ وَاحِدٍ مِنْهَا آمَنْتُ بِكَ، فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: اُتْرُكِ الْكَذِبَ فَقَبِلَ ذَلِكَ ثُمَّ أَسْلَمَ، فَلَمَّا خَرَجَ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ عَرَضُوْا عَلَيْهِ الْخَمْرَ، فَقَالَ: إِنْ شَرِبْتُ وَسَأَلَنِي الرَّسُولُ عَنْ شُرْبِهَا وَكَذَبْتُ فَقَدْ نَقَضَتْ الْعَهْدَ، وَإِنْ صَدَقْتُ أَقَامَ الْحَدَّ عَلَيَّ فَتَرَكَهَا ثُمَّ عَرَضُوا عَلَيْهِ الزِّنَا، فَجَاءَ ذَلِكَ الْخَاطِرُ فَتَرَكَهُ، وَكَذَا فِي السَّرِقَةِ، فَعَادَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: مَا أَحْسَنَ مَا فَعَلْتَ، لَمَّا مَنَعَتْنِي عَنِ الْكَذِبِ انْسَدَّتْ أَبْوَابُ الْمَعَاصِي عَلَيَّ، وَتَابَ عَنِ الْكُلِّ


Artinya: Diriwayatkan, bahwa ada seseorang yang datang kepada Nabi Muhammad Saw, seraya berkata: “Sesungguhnya saya adalah laki-laki yang ingin dituntun untuk beriman kepadamu, akan tetapi saya senang mabuk, berzina, mencuri dan berbohong. Banyak orang berkata, ‘apa yang kamu kerjakan itu tidak diperbolehkan untukmu’ sedangkan saya tidak mampu untuk meninggalkannya. Jika engkau bersedia menerimaku dengan melarang salah satu dari perbuatan yang aku sebutkan sebelumnya, saya akan beriman kepadamu.” Nabi SAW menjawab: “Tinggalkanlah berbohong.” Laki-laki tersebut menerimanya dan kemudian masuk Islam. Tatkala ia pergi dari sisi Nabi Muhammad, orang lain menawarkan minuman keras kepadanya, maka laki-laki tersebut berkata, “Jika aku meminumnya dan Nabi SAW bertanya mengenai perkara mabuk, maka aku akan berbohong dan melanggar janji. Namun sebaliknya, jika aku jujur maka hukuman akan berlaku untukku.” Akhirnya ia mengacuhkan tawaran tersebut. Kemudian ia ditawari untuk berzina, tetapi terlintas dalam pikiran sebagaimana sebelumnya, ia pun mengacuhkan tawaran itu. Demikian pula saat diajak untuk mencuri. Lalu, laki-laki tersebut kembali kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Alangkah indahnya apa yang telah engkau perbuat. Ketika engkau melarangku untuk berbohong, maka (seolah-olah) tertutup segala pintu maksiat padaku.” Sehingga pada akhirnya laki-laki tersebut bertobat dari seluruh maksiatnya.


2. Hadits Kedua: Kejujuran Mendekatkan Manusia Kepada Kebaikan

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّهُ يُقَرِّبُ إِلَى الْبِرِّ وَالْبِرُّ يُقَرِّبُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَصْدُقُ فَيُكْتَبُ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يُقَرِّبُ إِلَى الْفُجُورِ. وَالْفُجُورُ يُقَرِّبُ إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا، أَلَا تَرَى أَنَّهُ يُقَالُ صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ وَكَذَبْتَ وَفَجَرْتَ


Artinya: Dari Ibnu Mas’ud Ra, ia berkata: “Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap kejujuran, karena sifat tersebut bisa mendekatkan kebaikan dan kebaikan itu dapat mendekatkan kepada surga. Sesungguhnya hamba yang bersikap jujur, akan dicatat di sisi Allah SWT sebagai orang yang terpercaya. Dan hendaklah kalian menghindari sifat bohong, sebab kebohongan bisa mendekatkan maksiat dan kemaksiatan itu dapat mendekatkan kepada neraka. Sungguh, seseorang apabila berlaku bohong, maka ia akan dicatat di sisi Allah SWT sebagai pembohong. Ketahuilah bahwasanya dengan demikian, suatu saat merka akan dipanggil (satu per satu) dengan panggilan, “Engkau telah jujur - engkau telah berkata benar - engkau telah berbohong atau engkau telah berbuat dosa.”


Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kejujuran memiliki peran penting dalam membentuk kehidupan manusia yang lebih bermakna. Seperti hadits yang disampaikan oleh Al-Hasan bin ‘Ali: kejujuran itu bisa mendatangkan ketenangan.


Diperkuat lagi dengan penyandingan sifat jujur dengan perintah ketakwaan dari Allah SWT yang ditafsirkan oleh Fakhruddin Ar-Razi sebagai bentuk keistimewaan dari kejujuran itu sendiri.


Selain itu kelebihan dari sifat jujur ini juga mampu mengubah seorang ahli maksiat menjadi seorang yang taat. Dipertegas pula oleh Ibnu Mas’ud bahwa kejujuran cenderung mendorong kepada kebaikan.


Oleh sebab itu, dengan kesadaran penuh, mari kita melatih diri untuk senantiasa menerapkan sifat jujur dalam setiap aspek kehidupan. Wallahua’lam.


Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman

Comment Using!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages